Day Two - Librarian (Chapter III)

on Saturday, May 29, 2010
Penasaran, didekatinya anak itu. Diperhatikannya buku yang sedang dibaca itu. Wishing Chair Series. Enid Blyton, mm? Sepertinya, anak ini tahu mana buku yang bagus dan mana yang tidak. Mm, kalau dilihat dengan seksama, rambut birunya bagus juga. Sewarna langit cerah. Membuat yang melihatnya jadi merasa tenang. Kalau iris matanya juga biru, pasti anak ini terlihat manis, deh. Sayangnya, tidak. Ngomong-ngomong, anak ini sama sekali tidak terganggu dilihat dengan seksama seperti ini ya? Sebegitu tenggelamnya dalam prosa Enid Blyton?

Mengganggu pengunjung bukan salah satu pekerjaannya. Karena itu, dia memutuskan membiarkan anak itu menikmati imajinasinya. Lagipula, tidak ada tanda-tanda adanya perusakan buku. Jadi, tak masalah, kan? Biarpun noda-noda di wajah dan pakaiannya, mungkin akan meninggalkan bekas di lantai. Selama tidak menodai buku-buku yang ada, itu bukan masalah besar.

* * *

Pukul tiga sore, saatnya dia menyelesaikan semua pekerjaannya hari itu. Waktu pulang, tentu saja. Tapi, jangan dikira kalau perpustakaan ini juga ikut tutup. Cuma shift bekerjanya yang selesai. Perpustakaan ini buka sampai malam, tepatnya pukul 23.00. Ini dikarenakan obsesi si pemilik sekarang, yang merupakan cucu pendiri perpustakaan ini, ingin memberikan layanan pengetahuan hampir 24 jam. Sayangnya, hal itu cukup mustahil dilakukan. Tidak ada yang mau berjaga dari pukul 23.00 sampai 07.00.

Hal itu bukannya tanpa alasan. Perpustakaan ini sudah pernah buka 24 jam. Hanya saja, para pustakawan yang pernah mengambil shift subuh, tidak ada yang bertahan lebih dari satu minggu. Tentu saja, perpustakaan itu sudah kuno. Siapa yang tahan sendirian didampingi kebisuan buku-buku. Apalagi, kalau ada sesuatu yang muncul, yang katanya memang ada.

Oke, lupakan masalah itu. Semua pekerjaannya sudah selesai. Sebelum pulang, dia memutuskan untuk meminjam beberapa buku terlebih dahulu. Novel seperti biasa. Nah, entah mengapa, langkahnya menuntunnya pada posisi si anak rambut biru tadi. Padahal buku-buku yang ada di posisi anak itu berisikan kisah anak-anak. Anak itu masih duduk diam dengan posisi yang sepertinya sama seperti tadi. Kalau pun beda, pasti cuma beberapa senti. Tahan sekali tidak bergerak seperti itu.

“Tidak pulang?”

0 comments: