Day Two - Dad (Chapter I)

on Monday, May 31, 2010
Hari ini adalah hari kedua dia harus melepaskan putranya itu ke pengawasan orang lain. Hari kedua putranya memasuki lingkungan masyarakat. Kemarin, hari pertama, semuanya baik-baik saja. Putranya memang tidak bercerita banyak, selalu. Tapi, setidaknya dia tahu, hari pertamanya baik-baik saja. Akankah hal yang sama terjadi pada hari kedua? Tidakkah teman-temannya akan mulai heran melihat warna rambut yang teamat sangat berbeda itu? Bisakah teman-temannya menerima putranya? Cih, mengapa semua pikiran negatif ini menyerbu otaknya secara bertubi-tubi begini.

“Akankah kau baik-baik saja, hei, Rikkun?”

Hei, Rikkun akan baik-baik saja! Sini kau, jaga Ricchan selagi aku cuci baju!

Itu istrinya yang baru saja memanggilnya. Wanita yang masih terlihat sama cantiknya seperti pada saat dia melamar gadis itu. Seorang gadis yang tidak peduli pada keunikan warna rambutnya. Tidak peduli bahwa ada darah siluman yang mengalir dalam dirinya. Yah, rata-rata, wanita yang tertarik pada keunikan warna rambutnya, akan mundur ketika tahu bahwa dia adalah siluman. Cih, dia memang punya darah siluman tapi bukan berarti dia seorang manusia jadi-jadian, kan? Dia toh tidak makan manusia. Kenapa gadis-gadis cantik itu takut?

Lalu, Ricchan, putrinya. Usianya lebih muda dua tahun dari Rikkun. Warna rambut anak perempuan ini hitam seperti ibunya. Tentu saja, darah silumannya hanya diturunkan pada anak lelaki. Berbeda dengan Rikkun yang sejak kecil sudah tidak usil, tidak suka lari kesana kemari ketika sudah bisa berjalan—sampai-sampai dia mencemaskan perkembangan kakinya, jarang menangis pula. Ricchan adalah kebalikannya. Sekali saja anak itu lepas dari pengawasan orang tuanya, entah sudah berada di mana anak itu. Tidak bisa diam. Kalau jatuh, langsung menangis keras-keras. Tipikal anak kecil.

Dan Rikkun, putranya. Kepada anak sulungnya inilah, darah silumannya diwariskan. Warna rambut anak itu sama sepertinya. Anak ini sejak kecil, sudah menunjukkan kepatuhan yang luar biasa pada kedua orang tuanya. Kalau dilarang melakukan sesuatu, dia tidak akan melakukannya. Kalau disuruh duduk diam karena orang tuanya sedang sibuk mengurus Ricchan, dia akan duduk dengan tenang sambil mengamati kedua orang tuanya dan adiknya. Mungkin yang tidak dipatuhi Rikkun cuma satu. Anak itu tidak berminat ketika disuruh pergi main dengan anak-anak tetangga. Apalagi sejak dia bisa membaca dan sebuah buku berisikan kisah anak-anak lengkap dengan ilustrasinya diberikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Sejak saat itu, anak itu seperti keranjingan membaca. Kanji-kanji sederhana yang muncul pada buku-buku itu pun mampu diingatnya dengan cepat.

0 comments: