Bukan Cinderella

on Sunday, November 06, 2011

Aku iri pada Cinderella.


Aku tidak tahu apakah wajahnya cantik atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah tubuhnya sekurus lidi atau berlekuk seperti gitar Spanyol. Tidak ada satu pun kisah tentang Cinderella yang memberikan deskripsi jelas seperti apa Cinderella itu. Hanya dikatakan bahwa Cinderella adalah gadis yang tidak bahagia karena ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang janda beranak dua, yang sayangnya, janda ini bukanlah ibu yang baik bagi Cinderella karena kasih sayangnya hanya untuk kedua anaknya sendiri. Cinderella diharuskan untuk bekerja seharian dan hanya diperbolehkan untuk duduk di dekat perapian ketika malam tiba. Dari situlah dia mendapat julukan Cinderella, karena ada banyak abu di dekat perapian dan bahasa Inggris dari abu adalah cinder. Tapi, dengan segala kesialan yang dimilikinya, Cinderella mendapatkan akhir hidup yang bahagia. Menikah dengan Pangeran, tinggal di istana, hidup bahagia selamanya.


“Hmph. Aku juga mau.”


Tapi, mana ada ibu peri betulan di dunia nyata? Tidak ada dan aku tidak percaya pada ibu peri. Karena itu, aku iri pada Cinderella yang hidup di negeri dongeng, negeri yang segala sesuatunya bisa terkabul.


“Mau coba?”


“Hah?”


Tring.


...


“Oh, maaf,” tapi nadanya tidak terdengar seperti meminta maaf, “aku calon ibu peri yang baru belajar.” Seorang wanita yang dikelilingi oleh kilau berwarna hijau menatapku dengan ekspresi geli. Geli, bukan merasa bersalah. “Dan aku baru belajar satu mantra.”

“Kwek!”


“Aku tidak tahu kalau mantra itu untuk mengubah manusia jadi bebek...”


“KWEEEK!”


Aku marah. Mana ada ibu peri yang bodoh begini di negeri dongeng? Ibu peri selalu kelihatan sempurna dan penuh dengan keajaiban. Ibu peri selalu datang untuk mengabulkan apapun keinginan kita! Bukan menghancurkan wujud seperti ini!


Aku melangkahkan kedua kakiku yang pendek dan berselaput dengan marah. Dalam versi manusia, aku akan terlihat menghentak-hentakkan kaki dan membuat jejak yang dalam pada tanah yang kupijak. Tapi, dalam versi bebek, bagaimana tampang marahku? Memangnya bebek bisa menghentakkan kaki dan berekspresi marah serta menaikkan darah ke kepala sampai muka berwarna merah? Memangnya seperti apa tampang bebek yang sedang marah?


“Lucu.”


“KWEEK!”


Aku menoleh dan melihat seekor kucing yang sedang bergelung nyaman di akar-akar pohon dan menyeringai menyebalkan.


“Bercanda, Bek.” Kucing itu melepaskan gelungannya lalu melangkah ke arahku. Aku waspada. Aku tidak tahu apakah kucing juga makan bebek. Setahuku, kucing itu temannya macan. Jadi, waspada saja tak apa-apa, kan? Kucing itu sampai di depanku dengan tampang yang masih menyeringai menyebalkan. “Aku mau minta tolong, Bek.”


Aku memalingkan muka. Aku tidak mau membantu kucing yang menghinaku.


“Kau bantu aku,” kucing itu berbicara lagi, “aku akan bantu kau kembali jadi manusia dan menemukan akhir bahagiamu seperti... Cinderella.”


Aku bertahan pada posisi memalingkan mukaku. Tapi, aku tidak tahan. Aku ingin kembali jadi manusia dan aku... ingin memiliki akhir bahagia seperti Cinderella. Anak perempuan mana sih yang tidak mau hidup bahagia selamanya seperti dalam kisah-kisah dari negeri dongeng? Anak perempuan mana yang tidak ingin bertemu dengan Pangeran yang kaya raya, tampan, dan punya kastil yang luar biasa besarnya, lalu menikah dengan sang Pangeran? Yang pasti, aku mau. Karena itu, aku menoleh dan menatap kembali kucing tadi dengan tampang yang masih diangkuh-angkuhkan. Kucing itu tersenyum lebar, mengingatkanku pada kepala sekolahku yang suka melebarkan senyumnya sebelum memberikan hukuman lari 20 kali keliling lapangan.


“Cinderella sudah berubah menjadi seorang gadis yang pemarah.”


Kucing itu bicara sambil berjalan dan aku mengikutinya dengan tampang bingung. Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh si kucing. Siapa Cinderella? Jangan bilang kalau Cinderella yang dimaksud oleh si kucing adalah Cinderella bersepatu kaca yang menikah dengan Pangeran dan hidup bahagia selamanya! Jangan bilang kalau Cinderella yang ini adalah Cinderella yang sama dengan Cinderella yang selalu membuatku iri itu!


“Iya,” si kucing menghembuskan napas keras-keras, “Cinderella yang itu.”


Aku melongo. Bebek ini ternganga. Aku tidak menyangka kalau... kalau Cinderella itu benar-benar ada! Dan inikah... inikah negeri tempat tinggal Cinderella? Aku mendongak untuk melihat langit, menunduk untuk melihat rerumputan yang kuinjak, menoleh untuk melihat pemandangan di sekitarku, lalu tatapanku kembali pada si kucing lagi. Tatapanku menyiratkan protes. Bohong!


Si kucing menghela napas. “Segala yang bisa dilempar, akan dilemparkan. Segala yang bisa ditendang, akan dilesakkan dan dipenyokkan dan dibuang ke tempat yang jauh. Segala hal yang berpotensi untuk menaikkan amarah Cinderella, akan disingkirkan sesegera mungkin.


“Kau lihat sendiri akibatnya pada negeri dongeng, langit bermuram durja dan warnanya berubah dari biru cerah menjadi jingga cerah. Langit juga menangis dan musim hujan hampir selalu datang setiap hari. Bumi yang semula hijau sekarang menjadi coklat, secoklat air teh. Butiran pasir berubah menjadi batu-batu coklat dan besar, membuat banyak orang tersandung. Lautan ikut bersedih dan warnanya berubah menjadi merah merona. Dan kastil Pangeran yang semula berwarna merah bata ceria, kini menjadi putih pucat dan tak ada setetes warna pun yang bisa memulihkannya. Yang lebih parah, Cinderella tak pernah mengenakan gaun biru cerahnya lagi. Semua pakaiannya telah berubah menjadi hitam kelam.


“Dunia dongeng berada dalam bahaya. Dan peramal kerajaan mengatakan bahwa seekor bebek akan datang dan menyelamatkan negeri kami!"


"Kwek?"


Aku tidak mengerti, seperti kebanyakan para pahlawan penyelamat dalam negeri dongeng... bukan itu maksudku. Aku ingin protes, bagaimana mungkin bebek yang tak bisa bicara sepertiku bisa menyelamatkan negeri dongeng?!


"Kita sudah sampai."


Aku menoleh cepat lalu mendongak dan aku... ternganga. Ini istana, kastil, puri, apapun kau ingin menyebutnya. Besarnya benar-benar besar. Dan warnanya benar-benar putih bersih. Dan pintu terbuka. Dan... dan kami melangkah masuk ke dalamnya! Aku benar-benar tidak bisa percaya! Mengapa aku memasuki kastil seindah ini ketika wujudku bebek begini?! Mengapa bukan ketika aku berwujud manusia, hah?!


"Hati-hati."


"Kwe--gh."


Sebuah bantal mendarat di wajahku. Dan bantal lainnya, dan bantal lainnya, dan aku—memutuskan untuk—terjengkang.


"Yang Mulia." Si kucing membungkuk takzim, setakzim yang kucing bisa. "Hamba membawa sang pahlawan. Dan seperti ramalan peramal kerajaan, dia diharuskan untuk tinggal sekamar dengan Yang Mulia."


"Mana bebeknya? Itu? Bebek jelek macam itu?! Jangan bercanda! Dia bahkan tidak bisa bertahan di atas dua kakinya setelah kulempari bantal!”


Dan sebuah bantal melayang kembali ke arahku. Aku masih terjengkang dan tak berminat untuk bicara atau protes karena aku tahu, paruhku ini hanya bisa mengeluarkan satu jenis kata.


“Sabar, Yang Mulia. Bebek memang hewan lemah. Tapi, biarkan dia mencobanya dahulu. Bagaimana kalau kita masukkan dia ke dalam kandang bebeknya saja, Yang Mulia?”


...


Tidak ada suara. Aku tergoda untuk mengangkat kepala dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh si kucing dan Cinderella. Tapi, aku takut pada Cinderella. Putri itu benar-benar tidak seperti bayanganku. Aku memang iri pada sosoknya yang sangat sempurna. Dan harusnya, aku senang melihat kenyataan bahwa Cinderella tidak sesempurna itu. Tapi, melihat ketidaksempurnaannya secara langsung itu... aku... aku merasa tidak sanggup.


* * *

“Jadi, kau yang akan menyelamatkan negeri dongeng?”


Aku sudah berada di dalam kandang bebek—walaupun menurutku lebih mirip kurungan ayam—dan sang Cinderella... mengenakan gaun dengan model yang biasa dikenakan Cinderella pada ilustrasi buku anak-anak, hanya saja, warnanya hitam. Rambutnya pirang disanggul, wajahnya dipulas make-up yang agak tebal, tubuhnya tidak kurus dan tidak seksi. Cinderella terlihat biasa saja di mataku. Ngomong-ngomong, aku cuma bersuara “Kwek” ketika Cinderella bertanya padaku.


“Aku tidak mengerti,” kata Cinderella sambil menghentak-hentakkan kakinya dan melemparkan bantal dengan penuh amarah. “Aku tahu akan ada bebek. Tapi karena ini negeri dongeng, kukira bebek yang akan muncul bisa berbicara atau setidaknya... aku bisa mengerti maksud dari kwek bebek seperti aku mengerti miaow si kucing! Tapi, kwek-mu terdengar seperti bunyi kwek biasa. Aku dibohongi!”

“Kwek!” Aku mencoba. Dan yang ingin kukatakan adalah, “Aku juga tidak mengerti! Aku... aku cuma anak perempuan berusia lima belas tahun yang setiap hari harus membantu ibu berjualan kue di sekolah-sekolah! Aku cuma anak perempuan biasa yang ingin hidupnya jadi lebih baik! Aku cuma anak perempuan yang IRI pada Cinderella dan disihir jadi bebek oleh ibu peri bodoh! Bah! Dan aku benci pada Cinderella! Hidupnya terlalu sempurna! Aku juga mau menikah dengan Pangeran! Aku juga mau tinggal di kastil! Aku tidak mau tinggal di rumah kecil yang banjir setiap hujan turun! Aku tidak mau tidur di tempat tidur yang keras! Aku juga mau jadi Cinderella!!”


Cinderella cuma diam dan raut wajahnya tidak berubah sedikit pun setelah mendengar kwek-ku. Kuasumsikan, Cinderella tidak mengerti maksud dari—luapan emosi—kwek-ku.


Sedetik, dua detik, berlangsung dalam keheningan. Jantungku berdebar-debar menanti gerakan atau suara dari Cinderella.


Sebuah bantal menghantam kurunganku. “KAU TAHU APA?!”


Kurunganku diangkat dan aku cepat-cepat kabur karena... Cinderella membawa vas besar yang pasti akan segera dilemparkan ke arahku!


PRANG!


“Kau tidak pernah tinggal di kastil sebesar ini! Kau TIDAK PERNAH menikah dengan Pangeran! Apa kau pikir gampang, hah?!”


Sebuah piring lewat tepat di atas kepalaku.


“Aku harus memakai sepatu kaca berhak tinggi setiap hari supaya tidak terlihat memalukan ketika berdiri di samping Pangeran yang terlalu tinggi!”


Sepasang sepatu kaca mengenai tubuhku.


“Aku harus selalu menjaga berat badanku, bentuk tubuhku! Aku harus selalu mengenakan korset yang membuatku sesak napas supaya perutku terlihat langsing! Aku tidak boleh makan di atas jam tujuh!”


Tumpukan korset dilemparkan ke arahku.


“Kau tahu jadwalku? APA KAU TAHU JADWALKU?!”


Setumpuk kertas menghantam leherku dan aku terjatuh.


“Jam lima aku bangun dan mandi dan berdandan dan mengenakan pakaian brengsek yang membuat napasku sesak!”


Sebuah gaun biru menguburku.


“Jam enam sarapan dua butir apel! Lalu aku harus belajar berdansa, biola, piano, memanah, berkuda, berkebun, menyanyi, balet, memasak, merangkai bunga, membuat teh, table manner! Apa kau belajar semua itu?


“Dan setelah semua itu, PANGERAN SELINGKUH! Dia meninggalkanku sendirian! SENDIRIAN, kau dengar?!”


Aku meneguk ludah.


Cinderella benar-benar menyeramkan. Berkali-kali aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukan Cinderella yang membuatku selalu iri. Ini Cinderella yang berbeda. Cinderella itu sempurna, pujaan setiap anak perempuan di seluruh dunia. Cinderella itu... Cinderella itu mimpiku! Aku ingin menjadi Cinderella! Cinderella yang selalu membuatku iri—tapi juga selalu kupuja—itu tidak boleh seperti ini! Cinderella harus sempurna!


Aku merangsek keluar dari timbunan gaun biru Cinderella. Aku menjejakkan kedua kaki berselaputku dengan penuh tekanan ke atas karpet.


“KWEK!”

Puh! Aku mau bicara! Aku mau bilang begini, “TERUS KENAPA?! Kalau capek jadi putri, ya istirahat sana! Memangnya kalau marah-marah begitu ada gunanya? Cuma menambah keriput dan menjelekkan muka! Sudah tambah jelek, Pangeran kabur, apes banget sih!”


PRAANG!


“DIAAAAM!”


“KWEEEEK!”


Maksudku, “Tidak mau! Kau Cinderella jadi-jadian! Cinderella itu bukan pengeluh! Cinderella itu sempurna! Cinderella itu panutan! Cinderella tidak akan menyerah hanya karena hal-hal begini! Kalau Cinderella menyerah, mana mungkin Cinderella bisa menikah dengan Pangeran, hah?! Kalau bukan karena Cinderella yang ingin pergi ke pesta dansa, kalau bukan karena Cinderella yang berusaha menunjukkan diri pada Pangeran sehingga bisa mencoba sepatu kaca yang cuma sebelah, kalau bukan karena keberanian Cinderella, mana mungkin Cinderella bisa jadi Cinderella yang hidup bahagia selamanya?!”


“KAU... Kau... kau...”


Mulut Cinderella membuka tutup tapi tak ada suara yang keluar. Tubuhnya bergetar karena amarah yang menggelegak. Matanya menatapku dengan penuh kebencian. Tangannya terkepal erat. Aku menatapnya dengan galak.


Detik-detik berlalu dalam keheningan. Cinderella tidak tahu harus bicara apa. Aku diam menunggu.


“Kwek,” aku mencoba memecahkan keheningan. Sebenarnya, aku ingin mengatakan, “Kenapa... kenapa tidak berhenti jadi Cinderella saja? Mencoba pekerjaan lain. Kan Pangeran sudah pergi, tidak ada yang menahan Cinderella untuk tetap di sini. Cinderella bisa bertualang atau memanfaatkan pelatihan-pelatihan yang sudah didapat selama tinggal di kastil, kan? Siapa tahu Cinderella senang bermusik atau bernyanyi...”


Aku tidak melanjutkan kata-kata dalam hatiku. Cinderella masih tidak bersuara dan aku setengah takut pada Cinderella yang diam seribu bahasa ini. Aku menunduk, pura-pura tertarik pada karpet di bawahku dan pura-pura berusaha untuk melihat kaki berselaputku.


“Aku suka berkebun.”


Aku mendongak dan menatap Cinderella dengan ekspresi terkejut. Kaget karena Cinderella akhirnya menemukan suaranya.


“Kwek.” Aku memaki dalam hati, mengapa aku harus berbicara via telepati begini, hah? Aku ingin bilang begini, “Ya sudah, berkebun sana. Cari kebun, tanam tomat. Jangan jadi Cinderella lagi kalau tidak bisa jadi Cinderella. Merusak mimpi orang saja. Cih.”


“AH! Akhirnya kutemukan kau bebek kecil!”


Aku menoleh kaget dan melihat sosok menyebalkan yang mengubahku menjadi bebek dan tidak bisa bicara seperti ini. Aku menatap galak padanya dan mengeluarkan suara “KWEEK!” keras yang memekakkan telinga.


Ibu peri bodoh itu tertawa. “Maaf, maaf, aku sudah belajar mantra kedua lho. Ini, jadi begini.” Tongkat ibu peri itu diputar-putarkan dan aku menatapnya dengan ngeri.


Tring.


...


“AAAAAAHH!! Aku mau jadi Cinderella, IBU PERI JELEEEEK! AAAAAHHH!!!”


“SITI! DIAAAAM! INI JAM TIGA PAGI, TAUK!”


“Aaaaaaah!” Aku menghentak-hentakkan kaki manusiaku dengan kesal ke lantai. Ibu berisik! Aku mau jadi Cinderellaaaa! Ibu peri jelek! Aku baru mau menawarkan pada Cinderella untuk tukar posisi, tahu! Aku mau jadi Cinderella! Aku mau jadi Cinderellaaaaa!

Angin dan AC

on Friday, June 24, 2011
Suatu hari, di sebuah ruang kelas dengan empat buah AC yang masing-masing memiliki empat swing, yang bisa disamakan dengan 16 AC . terjadilah peristiwa berikut ini.

Murid-murid: "Pak, dingin, Pak. Kecilin AC-nya, Pak."
Pak Guru: (ngasih remote AC ke salah satu murid dengan tampang polos) "Waduh, saya gak ngerti soal AC nih."
Murid-murid: "Yah, bapak. Matiin aja deh AC-nya, Pak."
Pak Guru: (masih dengan tampang polos) "Lho jangan, saya kepanasan di depan sini. Bisa nggak dibikin anginnya ngarah khusus ke depan aja gitu?"
Murid-murid: "Mana bisa, Pak!"
Pak Guru: (pasang tampang melas) "Gimana dong."
(Salah satu murid yang tadi diserahi remote AC sibuk mengutak-atik arah swing-nya AC tapi masih tak menghasilkan apa-apa)
Pak Guru: "Gini aja deh, yang masuk angin, tulis di kertas: Angin Dilarang Masuk! Terus tempel di dahi!"

Break

on Sunday, June 19, 2011
Break, a word that has many definition, according to Google's "define: break".

Untuk kesekian kalinya, tidak ada lagi postingan baru di blog ini setelah satu bulan berlalu. Kalau boleh memberikan alasan, saya ingin memberikan judul post kali ini sebagai alasan. Baik makhluk hidup maupun benda mati, semuanya membutuhkan break, dalam arti: istirahat. Manusia butuh rehat bagi jiwa dan raganya, hewan juga butuh istirahat, mesin juga butuh saat-saat untuk mendinginkan isinya yang panas. Oleh karena itu, Anda bisa menganggap bahwa kealpaan saya selama sebulan ini adalah break. Istirahat, yeah.

Walaupun begitu, seperti yang sudah saya tuliskan di atas bahwa kata break memiliki banyak arti, saya juga bisa mengatakan kata yang sama tapi dengan maksud yang sangat berbeda. Saya bisa bilang begini: "It breaks." Break dalam arti apa? Rusak, yes. Apa yang rusak? Masa blognya rusak? Agak impossible, kan? Apalagi jika kerusakannya berlangsung selama sebulan. Kemungkinan untuk itu terjadi sangat, sangat kecil. Jadi, apa yang rusak? Otak saya, tepatnya ide saya, dan niat saya. Rusak dalam artian begini, ada banyak ide acak yang masuk ke dalam otak saya, tapi hampir semua ide itu rusak. Tidak bisa diolah, tidak layak untuk dikembangkan. Dan parahnya, ide-ide seperti itu didukung oleh niat saya yang sama rusaknya. Niatnya ada, tapi cuma bertahan selama beberapa menit. Apa itu kalau namanya bukan rusak? You named it: males.

Tapi, break juga bisa berarti kesempatan. Sebuah kesempatan yang dimiliki oleh seseorang bisa digambarkan dengan kata break. Contohnya: "Hey, it's my big break!" Jadi, Anda juga boleh menganggap bahwa ketiadaan post di dalam blog ini selama sebulan ini adalah sebuah kesempatan besar bagi saya untuk... untuk... untuk menghasilkan sebuah post baru yang berkualitas. Yap, itu... terdengar bagus.

Selanjutnya, Anda pasti sangat tahu dengan arti kata break lain yang ingin saya tuliskan. Frase ini sangat lazim dipakai oleh para pasangan yang kelangsungan hubungannya sedang berada di bawah titik nol. Yea, break up. Maksudnya, putus dalam sebuah hubungan. Nah, ini juga bisa saya gunakan sebagai alasan. Hubungan yang ada diantara saya dengan blog ini mulai memburuk sehingga saya memutuskan untuk melakukan break up selama sebulan supaya masing-masing dapat melakukan instropeksi diri. Nah, alasan yang bagus bukan? Terdengar seperti alasan yang dibuat-buat? Oh, memang.

Next, Google said `A rush or dash in a particular direction`. Skip. There is no dash in a month, right?

Break lainnya adalah memaksa, menurut saya. Break-in, break-out. Memaksa masuk, memaksa keluar. Nah, paksaan macam apa yang ingin saya jadikan alasan? Saya ingin memilih break-out sebagai alasan tidak adanya post selama sebulan terakhir di blog ini. Ini karena saya dipaksa untuk 'keluar', untuk tidak melakukan posting di sini lagi dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Dan pada hari ini, dengan adanya post ini, itu artinya, saya telah melakukan sebuah break-in, betul? Betulkan saja, oke. Setelah melalui paksaan untuk tidak melakukan post, saya berjuang keras dan memaksa untuk kembali melakukan post. Masalahnya, setelah a hard break-in, apakah saya tidak akan menemui break-out yang lebih kejam lagi? Well, kemungkinan itu cukup besar.

Begitulah. Setelah semua penjabaran dari beberapa arti kata break yang menurut saya cocok untuk dijadikan alasan, saya harus menjumpai break-out yang sudah menunggu saya dengan sangat tak sabar.

So, see you...

...I don't know when, but I promise that I will see you again.

Character and Me

on Tuesday, May 17, 2011
Have you ever create a character?

Sebagai seorang penulis yang tidak hanya bergelut dalam bidang percurhatan dan pergajean serta perandomisasian, beberapa kali saya pernah mendapatkan pernyataan yang sama. Pernyataan ini ada hubungannya dengan karakter-karakter yang pernah saya ciptakan, saya dalami, dan saya gali, serta saya tentukan jalan hidupnya. Pernyataan ini juga berhubungan dengan mitos bahwa karakter pertama yang diciptakan oleh seorang penulis adalah citra dari sang penulis sendiri.

"Si A ini mirip sama lu, ya."

Pernyataan ini membuat saya bertanya dan berpikir, "Masa sih?" Karena saya hampir tidak pernah membanding-bandingkan karakter yang saya ciptakan dengan diri saya sendiri. Sebut saja karakter-karakter yang sudah muncul di blog ini, Reachy, Riki, dan Resse. Kalau dilihat lagi ke belakang, karakter yang sudah bersama saya selama bertahun-tahun itu Reachy. Dan miripkah dia dengan saya? Tidak. Setidaknya, saya tidak merasa begitu walaupun ada beberapa orang yang bisa melihat kemiripannya. Lalu yang kedua, Riki. Miripkah saya dengannya? Banyak orang bilang, "Nggak! Beda jauuuuuuuh banget!" Mendengar ini, saya cuma bisa bersyukur karena itu berarti saya tidak sesuram Riki yang hidup segan mati pun tak mau. Lalu terakhir, Resse. Banyak orang bilang, ini karakter yang sangat mencerminkan saya banget. Iyakah?

Kalau Anda bertanya pada saya, saya tetap akan menjawab, "Tidak, saya tidak mirip dengan satu pun karakter yang telah saya ciptakan."

In denial mode? Maybe.

Saya juga pernah membuat sebuah novel dengan 26++ karakter yang berbeda di dalamnya. Dan salah satu beta reader saya dengan penasarannya bertanya, "Yang mana yang lu banget?" Sebagai penulis yang baik dan tidak ingin mengecewakan beta reader yang sudah mau (dengan terpaksa atau tidak) membaca tulisan sepanjang dosa itu, saya ingin memberikan jawaban dengan menyebutkan sebuah nama karakter. Tapi sayangnya, saya tidak bisa. Dan pertanyaan itu akhirnya cuma saya jawab, "Tebak coba."

Dalam kondisi labil, pertanyaan dan pernyataan di atas pernah membuat saya berpikir begini: Lalu saya itu seperti apa?

Jika dibandingkan dengan beberapa penulis di RPF yang saya kenal, sebagian besar memang menjadi bukti dari mitos yang telah saya sebutkan di atas. Mereka mirip bagai pinang dibelah dua dan mereka bangga akan hal itu. Tergodakah saya untuk membuat sebuah karakter yang begitu mirip dengan saya? Tidak. Ini bukan karena saya tidak tahu saya itu seperti apa sehingga tidak ingin membuat sebuah karakter yang mirip dengan saya, ya.

Kembali lagi pada pertanyaan salah satu beta reader saya, dia sudah mencoba menebak dan saya cuma menjawab dengan pernyataan, "Bukan," dan pertanyaan, "Emang mirip ya?" Pada akhirnya, saya cuma berkata, "Sudah, baca aja. Repot amat sih."

Dan ngomong-ngomong, semakin banyak karakter yang saya ciptakan, saya semakin merasa menjadi salah satu penderita MPD. Satu penyakit yang saya rasa pernah dianggap dialami oleh sebagian besar orang yang sangat mendalami sebuah karakter.

Nah, sesi curhat selesai. Sekarang giliran Anda, pernahkah Anda menciptakan sebuah karakter/tokoh? Kalau ya, bagaimana rasanya? Miripkah Anda dengannya? Atau seratus delapan puluh derajat berbeda? Atau Anda hanya memasukkan sebagian dari diri Anda ke dalam karakter Anda? Lalu, pernahkah Anda terpengaruh oleh karakter yang Anda ciptakan sendiri? Dan jika Anda belum pernah menciptakan sebuah karakter atau membandingkan seseorang dengan karakter yang dia ciptakan, saya tidak tahu harus bersyukur atau merasa kasihan pada Anda.

Distance

on Thursday, April 28, 2011
Shakespeare said, "What's in a name?"
And I will say, "What's in a distance?"

Siapa yang tidak pernah mendengar sebait pertanyaan "Apalah arti sebuah nama?" yang diucapkan Juliet pada Romeo? Hampir bisa dipastikan bahwa setiap orang pasti pernah mendengarnya, ditambah lagi dengan seringnya penggunaan quote tersebut di berbagai macam media. Dan mungkin, ketika Anda mendengar pertanyaan tersebut, secara spontan Anda akan menjawab bahwa nama itu penting. Bahwa tanpa nama, kita tidak bisa menyebut sesuatu baik makhluk hidup maupun benda mati dengan mudah. Tanpa nama, kita tidak akan memiliki label. Yea, nama itu cuma label. Sounds like peyorasi, eh?

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Bukan tentang nama, tapi tentang jarak. Tidak pernah ada serentet kalimat seperti betapa tidak pentingnya jarak antar bunga yang satu dengan yang lain yang mengikuti pertanyaan "What's in a distance?" Juga tidak pernah tercatat ada scene penuh dengan mawar tanpa duri yang mengikutsertakan kalimat ini. Ini hanya sebuah pertanyaan atau pernyataan. Ada apa di dalam jarak? Apalah arti sebuah jarak? Sama seperti Anda yang akan langsung berceloteh panjang lebar tentang pentingnya sebuah nama, saya juga ingin berceloteh panjang lebar tentang jarak. Bukan dari segi kepentingannya tapi dari segi keeksisannya.

Untuk apa jarak itu eksis? Mengapa jarak harus eksis? Mengapa jarak tidak dihilangkan dari muka Bumi saja? Mustahil, saya bisa mendengar Anda menjeritkannya. Jarak eksis karena apa pun yang hidup membutuhkan jarak. Tanpa jarak, apakah Anda bisa mensyukuri tibanya sebuah paket yang telah Anda nanti-nanti dengan selamat? Apakah Anda bisa menyadari rasa lelah yang menggelayuti setelah menempuh jarak yang jauh lalu bersyukur karena bisa tiba dengan selamat? Apakah Anda bisa merasakan sensasi senangnya menelepon seseorang yang begitu jauh jaraknya? Apakah Anda bisa merasakan rindu pada seseorang yang dipisahkan oleh jarak? Dan tahukah Anda, ada pepatah mengatakan "Yang dekat akan terasa jauh, yang jauh malah terasa dekat". Dan bagaimana pepatah ini bisa muncul kalau jarak tidak pernah eksis?

What's in a distance? That which we call a far
By any other name wouldn't feel so far away

* * *

An anonym scientist made a formula: D = S x T
where D = Distance, S = Speed, and T = Time

Rumus sederhana yang biasa dijejalkan di otak anak-anak SMP. Rumus yang menyesatkan karena yang dibutuhkan untuk menghitung jarak bukan hanya kecepatan dan waktu. Bagaimana kalau ada soal cerita seperti ini: Budi menempuk jarak dari sekolah ke rumahnya selama dua jam. Kecepatan sepeda motor Budi adalah 20km/jam. Berapa jarak yang ditempuh Budi? Mungkin anak-anak SMP akan langsung menjawab, 40 km. Sebentar, sayangnya, ada yang lupa dicantumkan dalam soal tersebut. Tapi, Budi mengalami kemacetan selama satu jam. Jadi, berapa jarak yang telah ditempuh Budi? Dan tidak, saya tidak perlu jawaban Anda kecuali Anda baru saja mengukur jarak sesungguhnya yang ditempuh oleh Budi menggunakan meteran bukan kalkulator.

Saya cuma ingin mengatakan bahwa ada elemen lain yang diperlukan oleh manusia untuk menghitung jarak. Apalagi kalau yang menghitung jarak adalah manusia, bukan mesin. Manusia itu memiliki persepsi tersendiri pada apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Siapa yang selalu mengeluhkan putaran waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat? Manusia. Karena bagi makhluk hidup lainnya putaran waktu itu selalu konstan, tetap, tidak pernah berubah karena tidak ada unsur percepatannya. Siapa yang menganggap bahwa suatu jarak itu jauh atau dekat? Manusia. Karena cuma manusia yang memiliki persepsi sedangkan makhluk lainnya tidak.

And I will make a formula: D = S x T + P2
where P = Perception

* * *

The distance is nothing; it is only the first step that is difficult
-Madame Marie du Duffand-

I'll Wait Forever

on Friday, April 01, 2011
Ia suka komet.

Kata om Google dan tante Wiki, komet adalah sebuah model web aplikasi di mana permintaan HTTP yang sudah lama dipegang, mengizinkan sebuah web server untuk mendorong data ke browser, tanpa browser memintanya secara eksplisit. Tapi bukan komet itu yang ia sukai. Komet yang ia sukai terdiri dari campuran es (air dan gas yang membeku) dan debu yang tidak menjadi planet ketika tata surya terbentuk. Komet yang memiliki orbitnya sendiri dan hanya bisa terlihat saat berada di dekat matahari. Terkadang tak terlihat selama beberapa milenium, tapi ada beberapa yang terlihat hanya dalam waktu seabad. Perjalanan jauh ditempuhnya, jutaan tahun cahaya dilaluinya.

Itu, komet yang ia sukai.

Dan ia, ia yang tak bisa berpindah tempat. Ia yang hanya bisa menunggu. Ia yang hanya bisa menatap langit, menunggu datangnya sang komet. Ia diam dengan sabar, tak pernah mengeluh, dan tak pernah menuntut. Ia tahu, sang komet akan datang suatu saat. Ia tahu, penantiannya takkan sia-sia.

Tapi tahukah kau, ada berapa banyak benda langit yang berkelap-kelip riang?

Tak tahu? Coba tengoklah langit yang dengan setia menaungimu setiap saat. Ketika siang hari, indera penglihatanmu hanya akan dibutakan oleh cahaya matahari yang bersinar ceria. Tak ada kerlipan riang yang menonjol dan membuatmu jatuh hati. Kau menatap langit siang dengan wajah cemberut, kecewa. Tapi tunggulah beberapa saat lagi ketika langit sudah menggelap. Sekarang lihatlah pada kekelaman malam yang biasanya tak kau sukai. Kerlipan cahaya terlihat dimana-mana. Menara pemancar, kerlipan lampu di sayap burung besi yang bergerak lamban, kerlipan lain di gedung-gedung tinggi pemecah rekor dunia. Seakan belum cukup, masih ada cahaya artifisial lainnya yang menampilkan warna-warni semarak dan ditunggu oleh tiap orang. Kembang api, begitu mereka menyebutnya. Kau pun terpana tapi kerlipan cahaya itu hanya sesaat. Dan tahukah kau? Ada cahaya lain, cahaya yang lebih riang dan lebih tahan lama. Tataplah kembali langit malammu, pandanglah bintang-bintang yang tak pernah berhenti memancarkan cahayanya. Mereka cantik, kan?

Berjuta pilihan di sisiku
Takkan bisa menggantikanmu

Dan tahukah kau bahwa itu tak mudah?

Langit takkan selamanya secerah malam ini. Awan yang berarak, petir yang menyambar, kilat yang menyala, titik-titik air yang turun, dan semua keindahan malam pun tak lagi terlihat. Begitu juga dengan sang komet. Ia gelisah tapi ia tahu, sang komet takkan memilih saat yang buruk untuk menghampirinya.

Walau badai menerpa
Cintaku takkan ku lepas

Lalu berapa lama penantian yang harus dilaluinya?

Ia tak tahu. Sering ia mencoba menghitung waktu yang berlalu sedemikian lambat tapi dengan segera hitungannya terlupakan. Ketika ia ingin mencoba lagi, alam menghapus hitungannya. Ia tak menyerah, ia terus mencoba walaupun ia tahu itu sia-sia. Hanya sekadar kegiatan untuk membunuh sang waktu yang begitu kejam.

Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku

* * *

Dan mengapa kau begitu menungguku, hai bunga?

Aku takkan pernah sanggup menghampirimu. Aku takkan pernah... takkan pernah bisa sekeras apapun aku berusaha. Tahukah kau, aku memikirkanmu. Aku mengasihanimu. Karena aku tahu betapa sia-sianya penantianmu. Dalam perjalananku, aku melihat banyak hal. Banyak hal yang mengingatkanku pada dirimu. Bintang-bintang yang bercahaya, satelit yang memantulkan cahaya, planet-planet, sahabat-sahabat kometku yang mengorbit tanpa henti. Kau tahu, aku sering menitipkan pesan pada mereka. Kataku, terangilah malam, ramaikanlah malam supaya kau tak kesepian. Jangan biarkan awan menghalangi kilau cahaya kalian. Dan mereka selalu menyampaikan hal yang sama padaku.

Mereka mengasihanimu.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya tak sabar menunggu saat aku bisa menengokmu, saat aku bisa melihatmu, bersinggungan dengan atmosfer untuk menampilkan cahayaku. Aku ingin memberitahumu bahwa aku di sini, selalu memikirkanmu di setiap detik cahaya. Tapi aku juga ingin mengatakan padamu untuk berhenti menantiku. Mampukah aku? Mampukah aku menghapus diriku sendiri dari setiap detikmu? Karena ketika saatku tiba untuk menjengukmu, aku tak sanggup menahan kegembiraan saat melihatmu. Cahayaku lebih terang dan kau pun terlihat gembira. Penantian panjangmu akan segera berakhir, mungkin itu pikirmu. Tapi tidak, hai bunga, aku hanya lewat dan takkan pernah singgah sampai kapanpun.

Lalu semuanya terulang lagi.

Semua penantianmu yang sia-sia.

Dan aku pun tak sanggup. Kukatakan pada meteor, maukah ia menemanimu? Kau tahu betapa sakitnya aku saat kudengar meteor mengiyakan permintaanku? Aku tak rela melihatmu ditemani oleh yang lain. Aku tak rela melepaskanmu. Aku tak sanggup untuk memberikanmu pada yang lain. Tapi tidak, aku akan bertahan dan aku menatap sang meteor yang menghampirimu. Aku tahu, kau akan mengucapkan permohonanmu cepat-cepat, takut sang meteor lenyap sebelum permohonanmu selesai diucapkan. Tapi kali ini tak perlu, hai bunga.

Karena sang meteor akan menemanimu, selamanya.

Dan kau akan menjadi setangkai bunga yang ditemani oleh bintang jatuh. Bunga Bintangku satu-satunya.


Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Comet_(programming)
http://nineplanets.org/comets.html

Credit:
Nikita Willy – Kutetap Menanti

Cuap-Cuap

on Wednesday, March 30, 2011
Rasanya tidak sopan kalau saya tidak menjelaskan darimana nama Cuap-Cuap ini berasal setelah tiga tahun lebih tiga bulan saya menggunakan nama ini. Jadi, biarkan saya sedikit bercerita kali ini.

Kalau Anda tanya, "Cuap-Cuap itu tentang apa sih?", "Isinya apa?", saya bakal jawab, "Nggak tahu." Serius, sampai sekarang, saya tetap nggak tahu Cuap-Cuap itu sebenarnya tentang apa. Yea, nggak tahu tapi saya pakai sebagai label post di blog saya. Karena ketidaktahuan tersebut, saya pernah bertanya-tanya pada orang lain, apa itu Cuap-Cuap. Kayak apa sih Cuap-Cuap. Pendapat kamu tentang Cuap-Cuap apa?

Nah, kata orang, itu tentang kehidupan sehari-hari. Kata yang lain, itu apaan sih, ga jelas. Kata yang lain tapi masih orang, itu tentang curhatan gitu, kan? Terus ada lagi yang bilang, itu bacaan ringan gitu deh, pembukaan doank. Lalu ada juga yang ngaku kalau dia nggak pernah baca si cuap-cuap, selalu dilewatin gara-gara ga penting abis isinya.

Intinya?

Cuap-cuap itu nggak penting.

^ bikin krik krik, asli.

Gimana nggak? Saya ditawarin, mau nggak nulis cuap-cuap. Tapi tanggapan pembaca sama itu rubrik jelek banget. Geez. Apa? Saya belum bilang ya? Iya, Cuap-Cuap itu rubrik di sebuah majalah. Majalah apa? Nanti akan disebutkan namanya, tenang saja. Jadi, saya yang dulu masih semangat-semangatnya menulis sampai menghasilkan post setiap hari tentang Reachy Ruch, ya saya terima saja tawarannya. Setelah diterima, baru tanya-tanya orang dan seperti yang sudah dikatakan di atas, saya merasa krik krik. Saat saya baca cuap-cuap para pendahulu pun saya tidak begitu menemukan intinya. Ya, ada sih intinya. Cara nulis mereka beda-beda semua. Yang dibahas dan cara pembahasannya juga beda-beda. Gimana nggak makin bingung, eh?

Bingung banget, jelas. Apalagi saya hampir nggak pernah menuliskan sesuatu yang nyerempet-nyerempet real life, kecuali untuk tugas sekolah. Di blog pun nggak pernah. Apalagi nulis pakai sudut pandang lo-gue, gw-lu, saya-Anda, aku-kamu. Tepatnya, saya nggak pernah nulis pakai sudut pandang pertama. Selalu sudut pandang ketiga. Tapi mau nggak mau, yang namanya waktu itu terus berjalan. Tiba-tiba deadline pun datang. Dan mau nggak mau, saya harus menyerahkan sebuah naskah tulisan pada sang editor.

Hasilnya?

*tertawa hampa*

Ya, anggap saja percobaan pertama, masih baru mulai, masih coba-coba. Tapi deadline kedua pun kembali datang. Hasilnya? Better. Tapi tetap nggak memuaskan saya. Lalu deadline pun terus berdatangan sampai akhirnya deadline itu berhenti mendatangi saya. Jujur, setiap naskah yang saya kirim adalah naskah coba-coba. Selalu ada yang berbeda dari satu naskah dan naskah yang lainnya. Mungkin itu kemajuan tapi bisa juga sebuah kemunduran. Yea, saya cuma iseng mencoba-coba cara menulis dari sudut pandang pertama yang berbeda-beda.

Dan apa bedanya Cuap-Cuap di majalah dengan Cuap-cuap di blog?

Nggak jauh berbeda, sebenarnya. Cuma mungkin yang di majalah agak sedikit berbobot karena target pembacanya ribuan orang. Kalau yang di blog mungkin agak terlalu random karena ya... ini toh blog saya, kan? Suka-suka saya mau nulis apa, kan? Yea, yea, egoisme seorang pemilik blog. Dan doakan saja, saya bisa membuat post lain yang jauh lebih berbobot daripada post ini.

Amin.

(credit: HimtiMagz)

What Is Your Dream?

on Thursday, March 24, 2011
Have you ever dream?

Saya yakin, Anda pernah bermimpi dan Anda pasti punya mimpi. Mungkin istilah mimpi terlalu luas, mungkin istilah cita-cita lebih cocok untuk menspesifikan isi bahasan dari post ini. Cita-cita, suatu gambaran tentang diri Anda sendiri di masa depan. Sesuatu yang biasa ditanyakan pada anak-anak saat masih kecil. Suatu pertanyaan yang pasti memiliki jawaban, sama seperti pertanyaan-pertanyaan normal yang ditujukan pada anak-anak. Dan apa jawaban Anda dulu? Saat usia Anda masih satu digit, saat dunia tidak terlihat seribet dunia orang dewasa. Mungkin, jawaban Anda berkisar pada jawaban seperti dokter, pilot, pramugari, insinyur, atau astronot? Jenis-jenis pekerjaan yang terlihat menyenangkan.

Lalu ketika usia Anda memasuki awal kepala satu, pertanyaan ini akan kembali ditanyakan. Apa cita-cita Anda? Usaha apa yang akan Anda lakukan untuk mencapainya? Mungkin, pada titik ini Anda akan mulai memikirkan cita-cita Anda dengan lebih serius. Anda akan mulai belajar melihat dunia orang dewasa. Bahwa cita-cita Anda saat masih berusia satu digit tak bisa semudah itu untuk diraih. Bahwa ada proses yang harus dilakukan untuk mencapai cita-cita Anda. Atau masih belum?

Belum atau sudah, usia Anda akan terus bertambah. Usia Anda kini memasuki pertengahan kepala satu dan pertanyaan tentang cita-cita menjadi lebih serius lagi. Pada titik ini, Anda akan mulai menyadari bahwa cita-cita takkan bisa seindah cita-cita saat usia Anda masih satu digit. Proses untuk meraih cita-cita sama sekali tak mudah. Banyak halangan yang rasanya terlalu besar untuk Anda hadapi. Dan mungkin, cita-cita Anda mulai terbelokkan di sini. Anda mulai mencoba realistis. Anda menurunkan cita-cita Anda yang terlalu tinggi, membuatnya terlihat lebih mudah untuk dicapai. Cita-cita masa kecil Anda pun berubah menjadi mimpi yang sesungguhnya. Begitu dekat tapi tak bisa dimiliki.

Tapi Anda sudah tak bisa mundur lagi. Masa depan telah menunggu Anda. Entah apakah masa depan ini menjanjikan atau tidak, entah menyenangkan atau tidak, entah bisa membuat Anda kaya raya atau tidak, dan ratusan entah lainnya. Entah bagaimana akhir dari kisah Anda nantinya. Pada akhirnya, hanya akan ada pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan setiap saat.

Am I rich enough?

How to expand my business?

How to get more and more money?

Why are there so many task I have to do?

...

Am I happy now?

Miracle

on Sunday, March 20, 2011
They said miracle, I said mukjizat.

Yeah, saya tahu itu sama.

Dan Anda tahu? Saya takkan membuat sebuah post yang panjang lebar seperti biasanya. Singkat saja, karena saya juga tidak ada ide atau niat untuk menuliskan keseluruhan hal yang bisa disebut dengan mukjizat. Eventhough every people said that you have to spread the miracle to everyone, I still don't want to do it. Yeah, Anda bisa menyebutnya egoisme. Well, egoisme yang mungkin hanya akan bertahan selama beberapa saat karena suatu saat kisah ini, cerita ini pasti akan beredar, berbaur dengan berbagai macam kisah nyata tentang fakta bahwa mukjizat itu nyata.

That my life is amazing.

That God is really amazing.

Selanjutnya, post ini hanya akan berisi curhatan setengah-setengah karena seperti sudah dikatakan di atas, egoisme saya masih tinggi :-" Jadi, sebagai seseorang yang tidak terlalu peduli pada tanggal, ada satu tanggal yang teringat oleh saya. Satu tanggal yang merupakan tanggal ketika seseorang bertambah umur, saat yang seharusnya membahagiakan, menyenangkan, dan penuh dengan sukacita. Tapi buat saya (dan buat keluarga saya, tentu), tanggal itu sama sekali tidak menyenangkan. Tak ada sukacita, tak ada senyum, tak ada tawa. Anda tahu? Ini adalah tanggal yang tepat untuk mema...njatkan doa dan pasrah kepada Tuhan di atas sana.

And the miracle really happen.

Delapan belas dibagi tiga sama dengan dua dikali 011.

18-03-2011.

Tanggal yang menandai bahwa kuasa Tuhan benar-benar bekerja. Well, saya hanya ingin mengabadikan tanggal ini, untuk mengingatkan saya supaya makin semangat memberantas pikiran-pikiran negatif \m/ Dan harus saya akui, post ini terlambat dibuat semata-mata karena satu alasan yang disebut dengan malas.

See ya =D

Review

on Sunday, March 13, 2011
[Masukkan umpatan terkasar yang Anda miliki ke sini karena biarpun saya ingin memaki-maki, saya tidak tahu jenis umpatan apa yang harus saya gunakan.]

What an opening, eh?

HAHAHA.

Bukan, ini bukan tanda-tanda stres, ini tanda-tanda depresi. Apa? Sama saja? Beda, beda. Stres itu lima huruf dan depresi itu tujuh huruf. Mana yang lebih parah? Entahlah. Bisa yang panjang, bisa yang pendek. Tidak jelas? Memang. Secara tiba-tiba saja, saya ingin menuliskan sesuatu di blog dan karena internet menyala dan yang harus dilakukan hanya menekan tombol ctrl+t, klik deretan bookmark, klik new post, jadi tak ada salahnya kalau saya melakukan draft ketiga yang entah selesai atau tidak. Kelihatan betapa depresinya saya? Dua draft tidak ada yang selesai. Tragis memang nasib kedua draft itu.

Nah, apa kira-kira yang akan membuat draft ketiga ini sukses? Ada beberapa alasan. Satu, saya sedang menggaje. Dua, saya mengantuk. Tiga, saya bosan. Empat, topik yang dipilih pada draft ini tidak seberat di dua draft sebelumnya. Lima, mari masuk ke intinya saja, supaya basa-basinya tidak terlalu panjang sekaligus untuk menurunkan semangat Anda men-scroll halaman blog ini sebanyak mungkin. Enam, bagaimana kalau saya lupa apa yang mau saya tulis sekarang?

Mampus lu, mampus!

-__-

Ceritanya, saya sedang jenuh, bosan mengetik, film sudah habis semua, di luar hujan deras, dan internet cuma setengah mendukung saya menggaje. Pilihan yang tersisa tinggal dua, baca atau tidur. Baca di sini masih terbagi menjadi beberapa cabang. Baca buku yang benar-benar buku atau baca buku-bukuan atau baca post orang atau baca berita atau... baca apapunlah. Tahu apa itu baca, kan? Tidak tahu? Kasihan, ckck. Tanya om google sana. Dan saya memilih untuk membaca blog sendiri, ngomong-ngomong.

NARSIS WOOO!
WOOOOOOO!
WOOOOO!
WOOO!
SST!

Jadi, kalau dilirik lagi, blog saya itu dibuat pada tanggal 28 Desember 2007. Jadi, usianya sekarang sekitar 3 tahun lebih 3 bulan. Dan kalau dilihat dari statistik jumlah postnya, tahun 2008 adalah masa di mana saya paling produktif. Sembilan bulan diisi dengan sebuah kisah lama yang namanya saya abadikan jadi nama blog ini. Kisah yang setiap ditulis ulang, jalan ceritanya pasti berubah, tokoh-tokoh sampingannya semakin banyak bermunculan, sifat setiap karakter berubah-ubah. Kisah yang teramat labil, sebenarnya. Sampai-sampai saya cuma benar-benar bisa mengingat tentang dua tokoh utamanya saja. Si protagonis dan si antagonis. Itupun pasti mengalami perubahan lagi (kalau saya berminat menuliskannya kembali). Sisanya? Pasti berubah lagi kalau saya tulis ulang, percayalah.

Nah, kalau di bagian cerita ada dia, di bagian agak normal ada post-post yang berlabel Cuap-cuap. Ada yang penasaran darimana asal mula nama Cuap-cuap? Tidak? Oke, saya juga tidak mau cerita, bweee! Nah, kesan saya membaca post-post berlabel Cuap-cuap zaman baheula, saya merasa... wow. It's soooo different. Penggunaan emoticon, penggunaan kata yang sangat tidak EYD sekali, penggunaan sudut pandang, lalu isi post yang benar-benar beragam (tepatnya, tidak saya sangka bahwa saya akan menulis itu! saya shock, btw). Dulu saya labil, pertama pakai 'gw' lalu pindah ke 'aku' ganti ke 'saya' sempat mengalami salah tuts keyboard jadi 'saia' dan sekarang kembali menggunakan 'saya'. It's funny, actually.

Ngomong-ngomong, saya baru saja menemukan varian lain dari penggunakan kata ganti orang pertama, yaitu 'ak'.

Still, it's funny! (rofl)

Dan kalau dilihat dari cara penulisan, juga sangat berbeda jauh. Dulu... lucu (rofl), sekarang... serius? Dulu tidak terikat aturan EYD dkk, sekarang... kaku? Dulu apa saja diceritakan, sekarang... pilih-pilih topik? Dunno, you see it, you judge it. Terserah apa pendapat Anda, tapi saya senang punya blog yang masih bertahan selama 3 tahun 3 bulan walaupun cuma sepertiga hidup. Setidaknya, saya bisa ketawa-ketawa gaje sendiri di depan layar komputer saat menemukan berbagai macam penulisan yang sekarang disebut dengan istilah... alay?

Walaupun saya tetap tidak merasa kalau itu alay sih.

Kan masih bisa dibaca dengan mudah tanpa harus melakukan dekripsi pada sekumpulan huruf kecil, kapital, dan angka yang disatukan menjadi kalimat :-"

Dan... sampai di sini saja. Terima kasih sudah membaca review kecil-kecilan, asal-asalan, yang ditulis oleh seorang penulis iseng, dengan tujuan setor tampang di blog dan memuaskan keinginan untuk posting setelah dua draft sebelumnya gagal total.

See ya :D

...
..
.

Apa? Saya cuma kangen mencantumkan emoticon :D di akhir post kok :-"

Farewell and Greeting

on Monday, March 07, 2011
What? Farewell again?!

Calm down, please. Tsk.

Okay.

Dan... tidak, mari gunakan bahasa Indonesia saja. Mata saya lima watt dan otak saya juga butuh istirahat, jadi post dengan bahasa Inggris hanya akan membuat post—yang sudah kacauini makin terlihat kacau dan makin tidak layak dibaca. Dan... tidak, saya tidak sebegitu cintanya pada perpisahan sampai-sampai menggunakan sepatah kata tersebut sebagai bagian dari judul post saya lagi. Hanya saja... perpisahan selalu menjadi cerita tersendiri yang menyenangkan untuk dinikmati, kan?

Apa? Tidak?

Jadi, cuma saya yang suram? Oke! #ganyante

Nah, karena Anda yang minta, saya akan mengulas perpisahan dari sudut pandang suramnya. Suram sesuram-suramnya sampai-sampai Anda akan dibanjiri oleh perasaan simpati yang meluap-luap dan pada akhirnya, Anda akan menghadiahkan sumpah serapah lengkap dengan makian-makian andalan pada si perpisahan ini. Proteslah, mengapa harus ada perpisahan. Proteslah, mengapa perpisahan itu harus eksis. Proteslah, mengapa Anda tidak bisa menghindar dari perpisahan.

Maunya sih begitu.

Berbahagialah kalian karena saya sedang tidak bisa menyuram.

Jadi, greeting atau bahasa lainnya, pertemuan. Jangan tanya mengapa lawan kata dari farewell adalah greeting, bukan meeting atau kata lain yang mungkin terpikir oleh Anda. Karena itu bukan ide saya, tapi ide Google. Oke, pertemuan ini sebenarnya adalah saudara kembar dari si perpisahan. Mereka tidak bisa dipisahkan dan sifat mereka identik. Biarpun satu-satunya alasan mengapa mereka tidak bisa digolongkan sebagai anak kembar adalah waktu lahir mereka yang biasanya berbeda cukup jauh.

Pertemuan.

Bisakah Anda menduga kapan akan bertemu dengan seseorang atau sekelompok orang? Bisakah Anda menduga kapan akan bertemu dengan sahabat terkarib Anda sekarang? Bisakah Anda menduga bagaimana sebuah pertemuan kecil menjadi sebuah hubungan yang sangat kuat? Bisakah Anda mengetahui apakah sebuah pertemuan akan membawa efek tawa berkepanjangan atau sedih yang berlarut-larut? Bisakah Anda menebak pertemuan macam apa yang akan Anda hadapi? Bisakah Anda... ssttt, saya tidak bertanya pada seorang peramal, ngomong-ngomong. Saya bertanya pada orang biasa yang tidak tahu seperti apa masa depannya.

Perpisahan.

Pertanyaannya tidak berbeda jauh dengan pertanyaan yang telah diungkapkan di bagian 'Pertemuan'. Cukup mengganti kata 'temu' dengan 'pisah' saja. Inilah mengapa saya menganggap mereka sebagai anak kembar. Mereka sama-sama tidak bisa diduga kapan datangnya, sama-sama tidak bisa ditebak akan menjadi seperti apa, sama-sama tidak bisa dikira-kira apa efeknya. Pertemuan tidak selalu sama dengan senang dan perpisahan tidak selalu sama dengan sedih. Ada pertemuan yang menyebalkan dan menyedihkan, ada juga perpisahan yang menyenangkan. Ada pertemuan dan perpisahan yang akan terus terpatri di ingatan walaupun sekian tahun telah berlalu, tapi ada pertemuan dan perpisahan yang akan dilupakan dalam hitungan detik. Ada pertemuan yang segera disusul oleh perpisahan, ada pertemuan yang tak kunjung menemui perpisahan.

Dua hal yang berbeda tapi mirip, menurut saya.

Dan... sebenarnya saya ingin menutup post ini dengan dua patah kata 'See ya' seperti biasa. Tapi saya ingin belajar membuat suatu penutup yang lebih layak. Tapi masalahnya, mata saya sudah berubah menjadi 3 watt. Dan lebih parahnya lagi, kasur saya sudah memanggil-manggil. Begitu juga dengan internet yang tidak mendukung saya untuk begadang. Jangan lupa ada... oke, intinya, saya butuh tidur. Jadi...

See ya.

Life Goes On

on Thursday, March 03, 2011
Halah.

(belum apa-apa kok sudah halah, lho.)

Anggap saja, saya sedang terkena virus galaunista saat mengetik postingan ini. Anggap saja, saya sedang terkena virus melankolis saat menarikan jemari di atas keyboard. Anggap saja, saya sedang meng-out of character-kan diri sendiri saat ide post ini terlintas. Anggap saja, saya sedang... sedang... sedang absen di blog yang kemarin sempat ter-update dengan kecepatan kilat ini.

Kisah pun dimulai dengan sebuah dialog.

"Nanti mau masuk SMA mana?"

Mungkin bagi sebagian besar remaja, pertanyaan ini tidak terlalu memusingkan. Ini bisa dianggap pertanyaan angin lalu yang tingkat keseriusannya tidak berbeda jauh dengan "Mau masuk SD mana?" Tapi bagi beberapa anak yang punya banyak pilihan dan... mungkin punya banyak mimpi serta... mungkin punya something, pertanyaan itu sudah cukup memusingkan. Pilihan yang akan menentukan di mana Anda akan menuntut ilmu selama tiga tahun itu cukup berat, lho.

Selanjutnya.

"Mau kuliah di mana? Jurusan apa?"

Berani jamin, pertanyaan ini terasa sangat memusingkan bagi anak-anak SMA yang sedang berjibaku dengan try out dan berbagai macam pelajaran tambahan sebagai persiapan menghadapi UAN. Tingkat keseriusan pertanyaan ini sudah bisa digolongkan menjadi sangat serius. Tempat kuliah sendiri sudah memusingkan. Belum ditambah dengan jurusan yang harus dipilih. Pilihannya bukan cuma dua atau tiga pula (IPA, IPS, dan Bahasa). Pilihannya ada sangaaaaaaat banyak. Satu fakultas saja sudah mencakup belasan jurusan. Dan di satu kampus, belum tentu hanya ada satu fakultas. Dan jumlah fakultas yang bisa dipilih itu bukan cuma sembilan tapi puluhan. Nah lho.

Berikutnya.

"Sudah 5k121p51? Kapan 51d4n9?"

Nah ini. Oke, tidak semua jurusan memiliki 5k121p51 sebagai tugas akhir dari masa kuliah selama bertahun-tahun. Tapi setidaknya, hampir semua mahasiswa merasakan ini. Kelanjutan dari proses 5k121p51 adalah 51d4n9. Membuat 5k121p51 saja sudah susah dan memusingkan karena belum tentu suatu topik bisa langsung disetujui. Proses pembuatannya saja sudah membuat mahasiswa seperlima hidup, seperlima tewas, seperlima putus harapan, seperlima hura-hura stres, seperlima [isi sesuka hati Anda]. Belum lagi ditambah dengan jadwal 51d4n9 yang entah kapan keluarnya. Apalagi, biasanya jadwal 51d4n9 ini begitu menyebalkannya sampai keluar di saat yang tidak terduga dan menyebabkan guncangan panik dadakan bagi para calon-calon terdakwa.

Selesai? Belum, belum.

"Sudah kerja? Kerja apa? Di mana? Gajinya berapa?"

Oke, selesai.


PS: Racauanista.

Happy Ending

on Friday, February 25, 2011
Hi.

Don't... don't give me that surprised face.

It's me who should be surprised. Three posts in four days? Wow. So... let me try my English in this post. Let see how long I can make... some words.

Nah, this post is insprired by a film I watched yesterday, A Crazy Little Thing Called Love. A Thailand film that I never really want to see if there is not so much people said that this film is very good. And... indeed, it's good. Laugh in the first, some tears in the middle, and wide smile in the end. Just because of... love. Crazy? Yes, it is.

The film starts with a little girl that isn't pretty enough until she called 'ugly-duckling'. And just like every teens, she likes a handsome boy... errr no, it's cute not handsome. And she likes him very much like a normal teens. She tried everything she can to get his attention. Hypnotising (...rofl), giving chocolate, joining a (fail) drama club, rubbing her skins (...rofl), getting a failed call (...still rofl), being a drum major, and so on. But it's not working. That cute boy still didn't give enough attention to her and... here it is. That cute boy's friend. A handsome boy that likes to flirt to any girls he met. However, her love to that cute boy is too much, make her didn't realize how much this handsome boy loved her. She is still fighting to get that cute boy attention... that still, it's not working.

Until here, I think, it will be a sad ending.

Or... just an ending.

But no, it's a happy ending. Really really happy ending. A first love that never go anywhere and stay still after many years. It's amazing although I didn't believe in first love... in reality. Well, in a story, everything can be make, right? Ah yeah, human is confusing (me too *straighface*) and everything could be happened how impossible it is, I know.

So... the happy ending. An ending that hoped by everyone. An ending that wanted by everyone including me. However, life taught me that happy ending can't happen everytime you want it. There is always the sad ending or just an ending. That is reality. You can't achieve what you want everytime. You are not the one who can control everything that happened around you. So, there is no happy ending. There is just an ending or... sad ending.

Gloomy? It is.

Yea, yea, there is time when I don't believe in happy ending. Maybe this is the reason why I never really make a happy ending story (:-"). But, life taught me more. That happy ending is exist. That sad ending and an ending just an intermezzo when you fight to get the happy ending. That life isn't so gloomy. That life can be cheered up. That life is need to be enjoyed. Well, maybe I'll try to make a really happy ending story after this.

Maybe.

And... this english post makes me hungry. See ya.