Day Two - Gardener (Chapter II)

on Sunday, June 06, 2010
Astaga, sekali lihat saja dia tahu, ini penindasan. Apalagi ketika tubuh kecil itu dijatuhkan ke tanah. Pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan pun melayang ke tubuhnya. Hei, hei. Masih pagi kok sudah menindas orang. Ckck.

Ingin menolong si rambut biru? Jelas. Tidak lihat dia sudah melangkah maju mendekati gerombolan itu? Lagipula badannya lebih besar. Masa takut sama anak SMP? Malu! Anak-anak itu paling digertak sekali sudah kabur. Hajar sekali dua kali juga tak masalah. Anak nakal memang perlu diberi pelajaran, kan?

“HOI!! Pagi-pagi sudah memukuli orang! Tidak malu pada matahari?!”

Apa hubungannya dengan matahari? Matahari muncul subuh-subuh bukan untuk melihat orang dipukuli atau memukuli, kan? Yah, tidak terlalu ada hubungannya memang. Anggap saja hanya gertakan kecil sebagai penyambut pahlawan pembela kebenaran ini. Huahahaha.

Keempat orang itu menoleh menatapnya. Sedangkan si rambut biru, tubuhnya melengkung di tanah. Kesakitan, sepertinya. Dia melangkah maju dengan langkah tegap dan dengan postur mengancam. Anak berandalan begini, diancam sedikit pasti sudah takut.

Benar, kan? Lihat saja, anak-anak SMP itu mundur selangkah dua langkah sebelum akhirnya berlari pergi, dengan makian-makian di mulut, tentunya. Didekatinya si rambut biru. Wajahnya terlihat mengkerut kesakitan. Ada beberapa bercak darah di wajah yang sudah penuh dinodai debu-debu tanah. Bajunya, kotor semua, jelas.

“Kau tak apa-apa?”

Pertanyaan bodoh. Mana ada anak SD yang setelah dipukul dan ditendang seperti tadi, akan baik-baik saja? Tubuh mereka kan masih lemah. Masih dalam tahap pertumbuhan. Dan dia benar-benar menyesal telah menanyakan pertanyaan bodoh itu.

Anak itu menggeleng, seakan berkata tak apa-apa. Ck, tidak perlu menguasai kemampuan membaca pikiran atau menyandang gelar dokter hanya untuk tahu, bahwa anak ini terluka dan mungkin cukup parah. Tapi, lihat, anak itu bangkit perlahan. Mengambil tasnya dan melangkah menuju gerbang sekolah.

Tanpa ucapan terima kasih sedikitpun pada penolongnya, eh? Bukannya dia gila ucapan tapi setidaknya, berterimakasih termasuk sopan santun, kan? Anggukan atau bungkukkan tidak dia tolak kok. Apa anak itu tidak diajarkan bagaimana bertutur kata dan bersikap yang baik dalam lingkungan masyarakat? Apa yang diajarkan sekolah ini sebenarnya? Atau mungkin, apa yang diajarkan orang tua anak itu?

Ck, sudahlah. Anggap saja dia sedang beramal. Lagipula ini masih pagi. Hari masih panjang. Satu peristiwa kecil yang tidak menyenangkan tidak perlu merusak seluruh harinya, kan?

0 comments: