Yeah, I don't need you to tell me how unconsistent I am. Pertengahan Maret, saya sudah membulatkan tekad untuk kembali menulis. Dan tanggal berapa sekarang? Yap, 11 Mei. Hampir dua bulan, eh?
Sebenarnya, sebelum bulan keempat berakhir, saya sudah ingin posting. Tapi, belum ada ide yang cukup menarik. Apa sekarang ada ide? Nggak juga. Cuma lagi pingin iseng mengisi blog. Mungkin sekadar memberitahu aktivitas saya, setelah hampir dua bulan menghilang setelah pembulatan tekad. Okay, I should say it. Sudah sekitar dua minggu lebih, saya mulai konsisten nulis, eh ngetik.
Pernah dengar Role Play Forum? RPF bukan RPG. Saya pernah mendengarnya kurang dari setahun yang lalu, lebih tepatnya bulan Juli 2009. Lebih tepatnya lagi? Err, lupa. Tapi, saat itu saya yang masih kecanduan berbagai macam game yang membutuhkan internet (baca : game online), belum terlalu berminat. RPF yang saya tahu pertama kali adalah IndoHogwarts. Seperti namanya, RPF ini berdasarkan dunia yang diciptakan oleh J. K. Rowling. Sebagai pecinta Harry Potter, seharusnya saya tertarik. Tapi, racun game memang teramat sulit ditolak. Jadi, saya lewatkan saja kesempatan mendaftar ke Hogwarts saat itu.
Sepuluh bulan berikutnya, entah ada angin apa, ada yang mengatakan pada saya, bahwa pendaftaran IndoHogwarts dibuka lagi. Tertarik? Sedikit. Sudah mulai memikirkan nama, visualisasi. Tapi, masalahnya, saya lebih tertarik pada visualisasi Asia, sedangkan di IndoHogwarts, dibutuhkan semangat juang 45 untuk mendapatkan jatah itu. Sampai di situ, keinginan untuk menulis kembali memang belum begitu muncul. Apalagi, di hari pembukaan pendaftaran IndoHogwarts, yang cuma satu hari, saya tidak menyentuh internet sama sekali. Jadi? Batal, jelas.
Baru beberapa hari setelahnya, di tengah-tengah kebosanan yang menyiksa, saya sedikit menyesal. Kenapa tidak maksa daftar saja dulu. Toh, ada yang bisa diminta mendaftarkan (lalala~). Lalu, saya diberitahu bahwa ada RPF lain yang juga bercerita tentang sekolah sihir, hanya saja ber-setting di Jepang, akan membuka pendaftarannya beberapa hari lagi. RPF kali ini, namanya Ryokushoku o Obita, biasa disingkat Ryokubita.
Nah, berbeda dengan IndoHogwarts yang rata-rata visualisasinya diisi oleh wajah-wajah barat, di sini, lebih diisi oleh wajah-wajah Asia. Senang? Tentu. Tapi, kebalikan dengan IndoHogwarts yang rata-rata namanya memang barat, di Ryokubita yang settingnya Jepang, tentu saja, kebanyakan namanya adalah nama Jepang. Sedikit mentok di sini. Sudah berapa tahun berlalu? Masa di mana hidup saya diisi oleh manga, anime, belajar bahasa Jepang dasar. Dan kecintaan saya pada Jepang sudah cukup luntur. Secara saya selalu mentok ketika membuat cerita dengan tokoh utama bernama Jepang.
Akhirnya, diberi ide, katanya, selipin aja nama tengah yang barat, terus ditulis pakai inisial. Nice idea. Nama depan dan belakang? Depan sudah dapat sih, biarpun aslinya tidak berbau Jepang, bisa dimodifikasi sedikit. Belakangnya? Ribet. Maklum sudah bosan dengan nama keluarga Jepang yang rasanya, mirip semua bunyinya dan cukup pasaran. Sudah hari pendaftaran, masih saja belum kepikiran. Akhirnya, kepepet, ambil nama yang biasa dipakai sajalah.
Nama selesai. Lalu, juga sudah minta tolong didaftarkan dulu karena lagi-lagi saya berhalangan untuk menyentuh internet. Then, dimulailah keaktifan saya kembali dalam bidang mengkhayal dan berimajinasi. Kaku di awal, jelas. Sadar koq, sejak mengenal game online, frekuensi saya menuangkan imajinasi ke dalam tulisan, benar-benar semakin berkurang.
So? Will you pray for me that this spirit will never die? At least, until I can make a new story again?
Buat yang penasaran. Namanya, Riki Celeste Mikagami.
Menu yang "Menyenangkan"
Menu beberapa hari yang lalu :
Makan siang :
- Nasi putih
- Labu
- Tempe
- Asap rokok yang luar biasa pekatnya
*Can you do that in other place? I'm eating right now!
Makan malam :
- Nasi putih, habis dalam beberapa kali gigit
- Cumi, cuma 1 sendok
- Telor, hanya beberapa iris
- Martabak, berukuran 8x8 cm
- Sate ati
- Otak-otak tengiri, yang luar biasa kecilnya
*What's with that portion? I didn't feel like I have been eating.
Makan siang :
- Nasi putih
- Labu
- Tempe
- Asap rokok yang luar biasa pekatnya
*Can you do that in other place? I'm eating right now!
Makan malam :
- Nasi putih, habis dalam beberapa kali gigit
- Cumi, cuma 1 sendok
- Telor, hanya beberapa iris
- Martabak, berukuran 8x8 cm
- Sate ati
- Otak-otak tengiri, yang luar biasa kecilnya
*What's with that portion? I didn't feel like I have been eating.
Write again?
Okay, I know that it's fast since my last post 3 days ago. It's not like I have my mood to write something or there is something I want to write =p Honestly, I'm trying to trigger my spirit to write again, to fill this blog again, to make my imagination going wild again..
Hari ini saya merasa seperti kembali menjadi seseorang yang baru saja belajar menulis. Penyebabnya adalah sejak jemari-jemari saya mengenal keyboard komputer, saya mulai melupakan menulis. Mungkin sudah lima tahun berlalu sejak saya kurang tertarik menulis karya saya di lembaran-lembaran kertas menggunakan pensil atau pena. Saya lebih tertarik untuk menarikan jari-jari saya di atas keyboard.
Actually, what I do today is something very simple. Ini hanyalah sebuah cara yang paling mendasar untuk mulai menulis atau menyusun berita tepatnya. Of course, what I talk here is 5W + 1H. Sesuatu yang hampir saya lupakan. Saya masih ingat, ketika pertama kali diberi tugas untuk menulis dengan menggunakan kerangka 5W + 1H, jujur saya kesulitan. Terbiasa menuliskan sesuatu yang fiksi tanpa aturan apapun, ketika diberikan aturan untuk menulis, hal ini membuat kata-kata saya mati. Untungnya, itu hanyalah salah satu bab yang hanya dibahas maksimal 2 pertemuan.
Ketika hari ini saya bertemu mereka lagi, saya merasa kesulitan. Memikirkan isi dari 5W + 1H mungkin cukup mudah. Merangkainya menjadi kalimat yang indah dan enak didengar atau dibaca, di situlah kesulitan saya. Mungkinkah akan jadi lebih mudah kalau saya terbiasa menulis setiap hari? Menulis dengan pena tentunya, bukan keyboard.
Satu hal lagi yang sedikit saya sulit lakukan adalah menulis berita. Okay, I never imagined or dreamed to be a newscaster or journalist. Saya lebih tertarik pada berbagai macam fiksi atau bacaan yang penuh fantasi, yang membuat imajinasi saya mampu melayang jauh. Dan saya tidak bisa menemukan hal itu dalam menulis berita.
Dengan semua alasan itu, jadi kenapa saya ikut-ikutan acara pelatihan jurnalis yang jelas-jelas kurang menarik minat saya? Saya berharap dengan pelatihan ini, minat menulis saya yang sekarang seperti sedang tersaput kabut tebal, bisa cerah kembali. Selain itu, mungkin saya merasa ini merupakan sebuah tantangan?
Anyway, I still don't know how to write without any point of view..
Hari ini saya merasa seperti kembali menjadi seseorang yang baru saja belajar menulis. Penyebabnya adalah sejak jemari-jemari saya mengenal keyboard komputer, saya mulai melupakan menulis. Mungkin sudah lima tahun berlalu sejak saya kurang tertarik menulis karya saya di lembaran-lembaran kertas menggunakan pensil atau pena. Saya lebih tertarik untuk menarikan jari-jari saya di atas keyboard.
Actually, what I do today is something very simple. Ini hanyalah sebuah cara yang paling mendasar untuk mulai menulis atau menyusun berita tepatnya. Of course, what I talk here is 5W + 1H. Sesuatu yang hampir saya lupakan. Saya masih ingat, ketika pertama kali diberi tugas untuk menulis dengan menggunakan kerangka 5W + 1H, jujur saya kesulitan. Terbiasa menuliskan sesuatu yang fiksi tanpa aturan apapun, ketika diberikan aturan untuk menulis, hal ini membuat kata-kata saya mati. Untungnya, itu hanyalah salah satu bab yang hanya dibahas maksimal 2 pertemuan.
Ketika hari ini saya bertemu mereka lagi, saya merasa kesulitan. Memikirkan isi dari 5W + 1H mungkin cukup mudah. Merangkainya menjadi kalimat yang indah dan enak didengar atau dibaca, di situlah kesulitan saya. Mungkinkah akan jadi lebih mudah kalau saya terbiasa menulis setiap hari? Menulis dengan pena tentunya, bukan keyboard.
Satu hal lagi yang sedikit saya sulit lakukan adalah menulis berita. Okay, I never imagined or dreamed to be a newscaster or journalist. Saya lebih tertarik pada berbagai macam fiksi atau bacaan yang penuh fantasi, yang membuat imajinasi saya mampu melayang jauh. Dan saya tidak bisa menemukan hal itu dalam menulis berita.
Dengan semua alasan itu, jadi kenapa saya ikut-ikutan acara pelatihan jurnalis yang jelas-jelas kurang menarik minat saya? Saya berharap dengan pelatihan ini, minat menulis saya yang sekarang seperti sedang tersaput kabut tebal, bisa cerah kembali. Selain itu, mungkin saya merasa ini merupakan sebuah tantangan?
Anyway, I still don't know how to write without any point of view..
Games : Buang Waktu atau Melepas Stres?
A game is a structured activity, usually undertaken for enjoyment and sometimes used as an educational tool. (sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Game)
Ketika menulis, tulisan ini, terus terang, otak saya sepertinya sedang tidak pada tempatnya atau lagi hang atau entahlah. Saya menemukan beberapa hal tentang game dari sumber yang sama, wikipedia. Jangan protes kalau saya menggunakan wikipedia sebagai sumber. Ini satu-satunya website yang saya tahu akan langsung memberikan definisi dari sebuah kata games. Bisa Anda baca sendiri di sumber yang saya berikan, apa itu game sebenarnya?
Buat saya, game adalah salah satu sarana untuk melepaskan stres. Dan game memang terkenal untuk hal yang satu ini. Walaupun ada game yang cukup bikin stres karena membutuhkan konsentrasi dan daya pikir yang lumayan. Tapi, game yang seperti ini cukup membantu otak kita untuk berolahraga dengan sukarela, dibandingkan harus memikirkan berbagai macam pekerjaan yang lain, game tentunya lebih menyenangkan, kan? Of course. That's way game is invented, I think.
Tetapi, sebagai seseorang yang bisa dibilang cukup kecanduan pada berbagai macam game, saya merasakan sesuatu yang berubah dari tujuan game tersebut. Okay, to the point, I refer to facebook game. Saya termasuk orang yang suka mencoba game-game baru di facebook. Dan semakin saya mencoba berbagai jenis game, semakin saya tidak mengerti. Untuk beberapa game, it's feel like a wasting time. Benar-benar buang waktu. Satu, dua jam, tiba-tiba sudah berlalu tanpa merasa bahwa saya telah melakukan sesuatu. Untuk beberapa game lain, saya juga merasakan seperti dikejar-kejar waktu. Ingin cepat-cepat login facebook, hanya untuk main. What the...?
Dan game-game ini juga tidak memberikan perkembangan apa-apa untuk saya. Yang ada malah waktu habis dalam sekejap sementara saya masih punya banyak hal untuk dilakukan. Saya juga tidak habis pikir. Beberapa gameplay-nya benar-benar amat sangat simple dan benar-benar tidak dibutuhkan uang nyata untuk memainkannya. Apa yang didapat developer-nya setelah usaha untuk membuat, me-maintenance, dan melayani permintaan-permintaan pemain? Lalu, apa pula yang sebenarnya didapat oleh pemain-pemainnya? Dan yang saya tidak mengerti, mengapa saya tidak bisa berhenti memainkannya walaupun rasa bosan itu sudah menumpuk dan menginginkan sesuatu yang fresh?
Entah kenapa game-game seperti ini membuat saya merenung. Ujung-ujungnya saya cukup merasakan beban yang membuat saya sedikit merasa stres. Waktu habis, kerjaan numpuk, bosan. What a game. Mungkin saya hanya butuh usaha dan tekad yang lebih kuat untuk melepaskan diri dari jeratan game-game yang tak berguna. Huff..
Ketika menulis, tulisan ini, terus terang, otak saya sepertinya sedang tidak pada tempatnya atau lagi hang atau entahlah. Saya menemukan beberapa hal tentang game dari sumber yang sama, wikipedia. Jangan protes kalau saya menggunakan wikipedia sebagai sumber. Ini satu-satunya website yang saya tahu akan langsung memberikan definisi dari sebuah kata games. Bisa Anda baca sendiri di sumber yang saya berikan, apa itu game sebenarnya?
Buat saya, game adalah salah satu sarana untuk melepaskan stres. Dan game memang terkenal untuk hal yang satu ini. Walaupun ada game yang cukup bikin stres karena membutuhkan konsentrasi dan daya pikir yang lumayan. Tapi, game yang seperti ini cukup membantu otak kita untuk berolahraga dengan sukarela, dibandingkan harus memikirkan berbagai macam pekerjaan yang lain, game tentunya lebih menyenangkan, kan? Of course. That's way game is invented, I think.
Tetapi, sebagai seseorang yang bisa dibilang cukup kecanduan pada berbagai macam game, saya merasakan sesuatu yang berubah dari tujuan game tersebut. Okay, to the point, I refer to facebook game. Saya termasuk orang yang suka mencoba game-game baru di facebook. Dan semakin saya mencoba berbagai jenis game, semakin saya tidak mengerti. Untuk beberapa game, it's feel like a wasting time. Benar-benar buang waktu. Satu, dua jam, tiba-tiba sudah berlalu tanpa merasa bahwa saya telah melakukan sesuatu. Untuk beberapa game lain, saya juga merasakan seperti dikejar-kejar waktu. Ingin cepat-cepat login facebook, hanya untuk main. What the...?
Dan game-game ini juga tidak memberikan perkembangan apa-apa untuk saya. Yang ada malah waktu habis dalam sekejap sementara saya masih punya banyak hal untuk dilakukan. Saya juga tidak habis pikir. Beberapa gameplay-nya benar-benar amat sangat simple dan benar-benar tidak dibutuhkan uang nyata untuk memainkannya. Apa yang didapat developer-nya setelah usaha untuk membuat, me-maintenance, dan melayani permintaan-permintaan pemain? Lalu, apa pula yang sebenarnya didapat oleh pemain-pemainnya? Dan yang saya tidak mengerti, mengapa saya tidak bisa berhenti memainkannya walaupun rasa bosan itu sudah menumpuk dan menginginkan sesuatu yang fresh?
Entah kenapa game-game seperti ini membuat saya merenung. Ujung-ujungnya saya cukup merasakan beban yang membuat saya sedikit merasa stres. Waktu habis, kerjaan numpuk, bosan. What a game. Mungkin saya hanya butuh usaha dan tekad yang lebih kuat untuk melepaskan diri dari jeratan game-game yang tak berguna. Huff..
Talents and You
Huwah.. Udah hampir 3 bulan ga posting.. hehe.. Gara-gara ga ada topik yang melintas di otak + tak adanya waktu untuk mencari inspirasi =p
Beberapa hari ini, sejak maraton tugas, proyek, dan ujian praktek dimulai, entah kenapa ada sesuatu yang terus melintas di otak saya. Itu adalah sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang tokoh bernama Ueki dari komik "The Law of Ueki". Agak-agak lupa gimana kalimatnya yang sebenarnya, intinya kurang lebih seperti ini : "If you lack of talent, you just need to try harder". Kalau Anda merasa kekurangan talenta, Anda hanya perlu untuk berusaha lebih walaupun tingkat kesulitannya jelas berkali-kali lipat dibandingkan bila Anda sudah mempunyai talenta.
Intinya, jangan mudah menyerah. Yang dicontohkan di dalam komik tersebut adalah talenta lari yang sebelumnya dimiliki Ueki. Tetapi, tiba-tiba saja karena suatu hal, talenta itu diambil darinya. Ueki yang sebelumnya mampu untuk berlari cepat sekarang tak mampu lagi. Tapi, pada titik itu, dia tidak menyerah dan berusaha lebih keras untuk menyelesaikan putarannya.
Mungkin hal inilah yang sedikit memberi saya semangat untuk terus berusaha sampai akhir, menyelesaikan semua tugas, proyek, dan ujian. Harapannya, di akhir, saya bisa tersenyum puas menatap hasilnya tanpa ada penyesalan "kenapa saya tidak berusaha lebih lagi?".
Bicara tentang talenta, mungkin Anda sering merasa iri dengan orang lain yang diberi anugrah talenta yang lebih. Anda terus menerus berpikir, seandainya saya jadi dia, seandainya saya adalah si itu, seandainya, seandainya, dan seandainya. Kebetulan juga, saya baru saja selesai membaca sebuah komik berseri berjudul "Fruits Basket". Salah satu komik dengan beragam masalah dan penyelesaiannya. Salah satu inti yang bisa saya ambil adalah be yourself. Jangan pernah mencoba menjadi orang lain. Hal seperti itu tidak akan membuahkan apa-apa, malah menggerogoti diri Anda sendiri.
Mm.. Jadi, ketika Anda ingin berusaha keras untuk melakukan sesuatu, ada baiknya Anda sadar, ada sesuatu yang walaupun sudah berusaha sekeras apapun, tidak akan bisa dicapai. Diri Anda sendiri adalah sesuatu yang unik, yang tidak akan bisa disamai oleh orang lain. Jadi, percaya dirilah :D
Sekian~ Singkat, ya? >.<
Beberapa hari ini, sejak maraton tugas, proyek, dan ujian praktek dimulai, entah kenapa ada sesuatu yang terus melintas di otak saya. Itu adalah sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang tokoh bernama Ueki dari komik "The Law of Ueki". Agak-agak lupa gimana kalimatnya yang sebenarnya, intinya kurang lebih seperti ini : "If you lack of talent, you just need to try harder". Kalau Anda merasa kekurangan talenta, Anda hanya perlu untuk berusaha lebih walaupun tingkat kesulitannya jelas berkali-kali lipat dibandingkan bila Anda sudah mempunyai talenta.
Intinya, jangan mudah menyerah. Yang dicontohkan di dalam komik tersebut adalah talenta lari yang sebelumnya dimiliki Ueki. Tetapi, tiba-tiba saja karena suatu hal, talenta itu diambil darinya. Ueki yang sebelumnya mampu untuk berlari cepat sekarang tak mampu lagi. Tapi, pada titik itu, dia tidak menyerah dan berusaha lebih keras untuk menyelesaikan putarannya.
Mungkin hal inilah yang sedikit memberi saya semangat untuk terus berusaha sampai akhir, menyelesaikan semua tugas, proyek, dan ujian. Harapannya, di akhir, saya bisa tersenyum puas menatap hasilnya tanpa ada penyesalan "kenapa saya tidak berusaha lebih lagi?".
Bicara tentang talenta, mungkin Anda sering merasa iri dengan orang lain yang diberi anugrah talenta yang lebih. Anda terus menerus berpikir, seandainya saya jadi dia, seandainya saya adalah si itu, seandainya, seandainya, dan seandainya. Kebetulan juga, saya baru saja selesai membaca sebuah komik berseri berjudul "Fruits Basket". Salah satu komik dengan beragam masalah dan penyelesaiannya. Salah satu inti yang bisa saya ambil adalah be yourself. Jangan pernah mencoba menjadi orang lain. Hal seperti itu tidak akan membuahkan apa-apa, malah menggerogoti diri Anda sendiri.
Mm.. Jadi, ketika Anda ingin berusaha keras untuk melakukan sesuatu, ada baiknya Anda sadar, ada sesuatu yang walaupun sudah berusaha sekeras apapun, tidak akan bisa dicapai. Diri Anda sendiri adalah sesuatu yang unik, yang tidak akan bisa disamai oleh orang lain. Jadi, percaya dirilah :D
Sekian~ Singkat, ya? >.<
Subscribe to:
Posts (Atom)