Reachy's Sentence (Prolog)

Sama seperti para kriminal pada umumnya, Reachy juga diberi seorang pengacara sebagai pembelanya. Tapi, entah memang Reachy yang bodoh atau dia sudah malas untuk mencari pengacara bagus yang akan membelanya, Reachy meminta pengacara dari pemerintah saja. Lagipula gratis, pikir Reachy.

Tapi, sepertinya, pengacara dari pemerintah sama sekali tidak bisa diandalkan. Pengacara itu tampaknya tidak terlalu berminat untuk membela Reachy. Kenyataannya, kasus Reachy memang benar-benar membuat hampir semua pengacara manapun merasa malas untuk membelanya. Hanya buang-buang waktu. Pertama, sangat tidak mungkin untuk mengubah status Reachy dari tersangka menjadi terdakwa dengan bukti-bukti dan saksi-saksi yang bertebaran di mana-mana. Kedua, hukuman mati sepertinya sudah jelas untuk seluruh perbuatan Reachy.

Tapi, Kanata yang notabene seorang polisi, malah meributi Reachy untuk mencari seorang pengacara yang lebih bonafit daripada pengacara yang diberikan oleh pemerintah. Ributan yang dijawab Reachy dengan jawaban yang sama pula. “Aku nggak punya kenalan pengacara yang murah dan bonafit.”

Tapi, setelah berhari-hari diributi seperti itu pun, akhirnya Reachy mengalah. Dia mengaku punya kenalan seorang pengacara yang mungkin mau membelanya.

“Siapa?” tanya Kanata segera. Takut kalau Reachy akan berubah pikiran.

Tindakan kriminal yang dilakukan Reachy memang kemungkinan besar akan mendapat vonis hukuman mati. Tapi, apa salahnya mencoba? Toh, masih ada hukuman seumur hidup. Atau pembebasan bersyarat. Leonce yang sepertinya sudah jelas akan divonis hukuman mati saja, ternyata mendapat hukuman 15 tahun penjara. Dan dia sebentar lagi akan bebas, karena pengacaranya sedang mengusahakan pembebasan bersyarat.

“Reinhart Ravieira.”

Kanata dan beberapa polisi yang sedang berada di situ langsung terkejut setengah mati. Reinhart Ravieira bukanlah seorang pengacara kacangan yang bisa dibayar murah. Dia adalah pengacara terkenal karena kata-katanya yang tajam dan keberhasilannya memenangkan beberapa kasus sulit. Dan Reachy yang ini kenal dia? Bahkan katanya pengacara kondang ini mau membelanya? Wow, wow.

Reachy menatap reaksi mereka yang sudah diduganya dengan sebal.

“Eh, kau yakin Ravieira yang kau kenal itu dia? Siapa tahu ada Ravieira lainnya?” tanya salah seorang bawahan Kanata dengan nada masih tidak percaya.

Reachy menghembuskan napas kesal. “Nah, aku nggak punya nomer telponnya. Mau mencarikanku nomer telponnya? Supaya kalian percaya?”

Kanata memberikan sebuah kartu nama yang diambil dari lacinya. Dia memang sudah pernah bertemu beberapa kali dengan pengacara terkenal itu. Pengacara muda yang berbakat. Padahal katanya waktu kuliah, dia termasuk salah satu mahasiswa pelanggar hukum.

Reachy menekan nomor yang tertulis pada kartu nama itu. Tak lama kemudian, nada sambung pun terdengar.