Reachy's Sentence (Part XV)

Hari itu, High Bozz pulang larut malam karena ada masalah-masalah tak terduga yang harus diselesaikan hari itu. Setiba di rumah Ketua Spyder, lampu-lampu tampak masih menyala terang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Tempat tidur pun kosong, tidak tampak tanda-tanda bekas ditiduri. High Bozz pun masuk ke dapur yang juga masih menyala terang.

Di sana, istrinya yang mungil itu tampak tertidur di meja makan yang di atasnya sudah terhidang ayam panggang ala Reachy dan semangkuk besar sup bawang. Ayam panggang dan sup itu pasti sudah bosan menunggu dimakan. Dan High Bozz baru teringat bahwa dia lupa memberitahu Reachy tentang masalah yang mendadak harus diselesaikannya. Dia menggaruk-garuk kepalanya dan membatin, sudah kubilang, suruh koki saja!

High Bozz baru akan menggendong Reachy ketika anak itu terbangun. Sepertinya, dia terbangun karena mimpi buruk. Wajahnya masih tampak shock. Tapi, begitu melihat High Bozz, shock di wajahnya langsung lenyap.

”Kau sudah pulang?” tanya Reachy. Lalu, matanya beralih ke jam dinding yang tergantung di dapur itu. “Ah, biar kumasukkan ke kulkas.” Reachy sudah beranjak untuk membereskan makanan yang sudah dihidangkannya 4 jam yang lalu.

“Tidak usah. Tolong hangatkan,” kata High Bozz sambil menarik kursi dari bawah meja makan dan duduk.

Gerakan Reachy berhenti sesaat. Dia menatap High Bozz kaku. Tapi, sedetik kemudian, dia melanjutkan kegiatannya.

“Kau sudah kenyang, kan?” tanya Reachy sambil menunjuk dada High Bozz.

Mata High Bozz mengikuti tunjukan Reachy. Di bagian dada kemejanya yang putih tampak noda berwarna coklat. Sial, umpat High Bozz, pasti gara-gara saus ayam tadi.

High Bozz berdiri dan mencengkeram lengan Reachy yang sudah hampir mengangkat piring tempat dihidangkannya ayam panggang.

“Hangatkan saja, akan kumakan. Oke?” kata High Bozz sambil mengecup leher Reachy. Masih bisa dirasakannya wangi saus buatan Reachy.

Akhirnya, Reachy pun menyerah dan menghangatkan semua makanan itu. High Bozz pun memakan semua makanan itu dengan lahap biarpun tadi perutnya sudah diisi spaghetti buatan koki AO di rumahnya. Reachy cuma menatap High Bozz dengan tatapan melamun.

“Nggak makan?” tanya High Bozz.

“Nggak lapar,” jawab Reachy pendek.

“Masih marah karena aku nggak bilang akan pulang malam?” tanya High Bozz lagi.

Reachy menggeleng. High Bozz menatapnya bingung.

“Jangan baca pikiranku,” kata Reachy tajam.

“Oke,” sahut High Bozz cepat. Lalu, dia kembali menghadapi ayam panggangnya.

0 komentar: