Hanya dalam dua menit, mantra yang dilantunkan para jubah hitam itu sudah menimbulkan efeknya. Semua penonton yang seedang menonton bisa melihat sesuatu seperti asap tapi sedikit lebih padat berwarna biru muda, keluar dari sekujur tubuh Reachy. Awalnya memang hanya sedikit. Asap yang keluar akan melayang naik dan karena warnanya sewarna dengan langit, asap itu pun terlihat lenyap.
Tapi lama kelamaan, asap itu rasanya makin banyak keluar dari tubuh Reachy. Dan efek dari keluarnya asap itu benar-benar terlihat. Reachy tampak lelah sekali. Kepalanya tertunduk dan nafasnya memburu. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
“Li,” panggil mamanya Reachy cemas. Li menoleh. Tapi, tatapan wanita itu tidak beralih sedikitpun dari anaknya. “Apa yang akan terjadi setelah semua ini selesai?”
“Reachy tidak akan punya kekuatan apapun. Dia akan jadi manusia biasa. Dia juga tidak bisa menggunakan pedangnya lagi. Benar-benar manusia,” kata Li sambil mengalihkan tatapannya kembali pada adiknya.
Setelah 45 menit, semuanya berakhir. Salah satu dari ketiga jubah hitam itu mengkonfirmasikan bahwa penarikan kekuatan Reachy sudah selesai dan berakhir. Li langsung berlari menerobos pagar manusia yang dibuat oleh polisi. Dipeluknya tubuh Reachy yang sudah sepertinya sudah kesulitan untuk berdiri.
“Kanata! Kuncinya!” seru Li cemas.
Kanata langsung berlari dan membuka kunci borgol Reachy. Tubuh Reachy sekarang benar-benar bertumpu pada kakaknya. Wajahnya yang pucat pasi membuat Li cemas setengah mati. Reachy terbatuk-batuk kecil.
“Kau tidak apa-apa, Reachy?” tanya Renace yang juga sudah berlari menghampiri Li dan Reachy, diikuti semua teman-temannya dan keluarga Reachy. Renace ikut membantu Li memapah Reachy.
Reachy cuma menggeleng pelan.
“Kita sudah menyiapkan ambulans. Bertahanlah. Oke?” kata Pinxe menyemangati Reachy. Reachy mengangguk lemah dan memaksakan sepotong senyum di wajahnya.
Tapi, sesaat kemudian, Reachy berhenti. Renace dan Li yang memapahnya saling berpandangan bingung. Reachy dengan bertumpu pada Li dan Renace berbalik menghadap tiang besi tempat dia diborgol tadi. Teman-teman dan keluarga Reachy mengalihkan pandangan dengan heran.
Di balik tiang besi itu, tampak seorang penarik yang jatuh berlutut dan tampak kesakitan. Di sisinya, seorang temannya tampak cemas melihat temannya itu. Tiba-tiba saja, Reachy melangkah menghampiri mereka berdua. Li dan Renace yang menyadari Reachy berjalan sendiri, terkejut bukan main. Tadi Reachy sudah hampir tidak bisa berjalan! Tapi, sekarang dia melangkah dengan mantap ke arah kedua orang itu. Apa-apaan ini?
“Kenapa dia?” tanya Reachy pada si penarik yang sedang mencemaskan temannya.
Penarik itu menatap Reachy dengan ekspresi ketakutan. “Pergi kau! Jauhi kami!” seru orang itu kalut.
“Reachy? Ada apa?” tanya Li bingung.
Reachy tidak menggubris ucapan kakaknya. Dia malah semakin mendekati kedua penarik itu. Dia tahu sekali apa yang dialami salah satu penarik yang terlihat kesakitan itu. Dua hari penuh, dia cuma bisa tergolek lemah di tempat tidur. High Bozz melarang Reachy untuk terlelap sedetik pun. Selama itu, satu-satunya aktivitas yang bisa dilihat olehnya adalah High Bozz yang bekerja terus-terusan, menyelesaikan pekerjaannya dan pekerjaan Reachy. Reachy juga bisa melihat, High Bozz tidak bekerja dalam kondisi fit. Dia tampak amat sangat kelelahan, padahal pekerjaan-pekerjaan yang diselesaikann tidak akan membuatnya selelah itu.
“Kau menyimpan kekuatanku, kan?” tanya Reachy langsung pada si penarik yang tampak kesakitan. Tidak ada sanggahan ataupun jawaban ya dari kedua orang itu. “Vonis yang kuterima sepertinya, tarik dan hancurkan. Kenapa disimpan?!”
“Berisik!” tukas penarik itu kesal. “Memang itu yang seharusnya dilakukan! Itu cara kami untuk bertambah kuat! Kami sudah biasa menyimpan kekuatan yang kami tarik! Dia tidak pernah sampai seperti ini!! Dasar monster!!!”
Reachy menatap mereka datar. Dia tersenyum tipis. “Kalian hanya tidak tahu batas kemampuan kalian.”
Apa yang kau inginkan saat itu, High Bozz? Menarik kekuatanku, menyimpannya dalam tubuhmu sendiri, tapi lalu kau mengembalikannya kembali padaku. Apa kau ingin menyimpan kekuatanku untuk dirimu sendiri? Kau mengembalikannya padaku karena tak sanggup menyimpan kekuatan itu lama-lama. Atau karena kau tidak tega melihatku yang tidak bisa bergerak tanpa kekuatanku, sehingga kau kembalikan kekuatan itu? Atau ada tujuan lain?
0 komentar:
Poskan Komentar