“Apa yang mau kau lakukan?!” seru Reachy marah. Dia menarik borgolnya keras-keras, berusaha memutuskan borgol itu.
Ruangan tengahnya yang dulu terisi sofa dan meja kecil beserta rak-rak tempat menaruh hiasan-hiasan kecil, sekarang sudah berubah total. Tidak ada lagi barang-barang itu. Ruang tamunya sekarang hanya berisi satu pilar besi bercat hitam yang tertancap di tengah-tengah ruang tengahnya. Reachy yang capek karena baru pulang dari tugasnya di Itali, tentu saja marah mendapati ruang tengahnya sudah berubah total.
Tapi, ketika Reachy mendekati High Bozz dengan kemarahannya, High Bozz malah menggendongnya paksa dan memborgolnya pada tiang besi itu. Lalu, dengan tenangnya, High Bozz menutup pintu depan, menguncinya rapat-rapat dan mengubah kode untuk masuk ke rumah itu. Lalu, dia menggambar lingkaran dengan bintang dan simbol-simbol aneh di lantai mengelilingi Reachy. Dia seperti tidak terganggu dengan jeritan-jeritan marah Reachy.
Setelah hampir satu jam melakukan persiapan-persiapan yang tidak dimengerti Reachy, akhirnya High Bozz selesai. Dia menatap Reachy dengan senyum manis.
“Sudah capek teriak-teriak, Sayang?” tanya High Bozz sambil tertawa kecil.
Reachy menatap High Bozz dengan jengkel. “Apa yang mau kau lakukan sebenarnya?”
“Diamlah, konsentrasi untuk memisahkan kekuatanmu. Maka kau akan tahu. Oke?”
Reachy menatap High Bozz kesal. Tapi, toh dia menurut ketika melihat High Bozz mulai melantunkan sesuatu seperti mantra dalam bahasa yang tidak dimengerti Reachy. Peristiwa itu terjadi selama 45 menit.
Tapi, Reachy yang masih dalam kondisi jetlag ditambah kelelahannya gara-gara perjalanan jauh, membuat Reachy tidak bisa berkonsentrasi penuh. Beberapa kali konsentrasinya buyar. Apapun yang dilakukan High Bozz sekarang, hal itu tidak membuat tubuhnya lebih baik. Dia merasa energinya direnggut perlahan-lahan. High Bozz yang tahu Reachy kesulitan berkonsentrasi, membantu anak itu melakukannya.
Begitu semua itu selesai, High Bozz menghembuskan napas lelah. Tapi, kondisi Reachy benar-benar memburuk. Tubuh kecil itu sudah terduduk lemas dan dia terbatuk-batuk.
“Sabar, sedang kulepaskan,” kata High Bozz sambil membuka borgol di tangan Reachy.
Tapi, begitu melihat wajah Reachy, perut High Bozz langsung merasa mulas. Reachy batuk darah. Wajahnya pun sepucat tembok. Dan dia tidak menjawab panggilan High Bozz berkali-kali. High Bozz langsung menggendong Reachy ke kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dia langsung membantu pernapasan Reachy yang terlihat sesak dengan tabung oksigen. Dia juga memasang beberapa macam alat lainnya untuk mempertahankan kesadaran Reachy.
“Hei,” panggil High Bozz pelan. Dibelainya rambut Reachy dengan lembut. Reachy masih belum sadar. Atau mungkin dia sadar, hanya saja dia tidak sanggup untuk membuka matanya. Tidak punya kekuatan sedikitpun untuk membuka mulutnya menjawab panggilan High Bozz.
Dan High Bozz begitu cemas melihat Reachy yang tidak kunjung membuka matanya setelah satu jam berlalu. High Bozz memang memperkirakan kondisi Reachy akan langsung menurun drastis setelah kekuatannya ditarik keluar. Apalagi tadi Reachy kesulitan untuk berkonsentrasi. Tapi, dia sama sekali tidak mengira akan sedrastis ini!
Reachy jelas-jelas sangat kesulitan untuk bernapas. Nafasnya masih terdengar memburu. Paru-parunya memang mulai rusak sejak kematian Toxin. Anak itu menjadi pecandu rokok dalam taraf yang sudah masuk keterlaluan. Dia sudah seperti cerobong asap kereta api yang terus mengeluarkan asap dari mulutnya. Ketika Leonce berhasil menghentikan kebiasaan buruknya itu, sudah terlambat. Sudah ada tumor jahat yang bersemayam di paru-paru Reachy.
Tapi, ketika hampir dioperasi, entah bagaimana tumor itu lenyap tak berbekas. Dan kondisi Reachy langsung pulih seperti sediakala.
Satu jam kemudian, High Bozz melihat Reachy menggerakkan tangannya. Matanya juga mulai terbuka. Reachy masih belum bisa bicara. Untuk bernapas saja dia sudah kesulitan, apalagi bicara. Tapi, High Bozz begitu gembiranya melihat Reachy sadar, sampai dia ingin menciumi Reachy, memeluknya sampai puas.
Alasan kenapa High Bozz begitu cemas, padahal dia sudah sedemikian sering menyakiti Reachy sampai anak itu menemui ajalnya, adalah karena Reachy sudah kehilangan kekuatannya. Tanpa kekuatan, seandainya Reachy mati, dia takkan bisa hidup lagi! Dan High Bozz benar-benar tidak ingin anak itu pergi meninggalkannya untuk selamanya!
0 komentar:
Poskan Komentar