Saat High Bozz memasuki rumah Ketua Spyder, jam sudah menunjukkan jam 7 lebih seperempat. Begitu memasuki ruang tengah, bau masakan yang menyenangkan sudah menyambut hidungnya.
“Kau masak lagi?” tanya High Bozz sambil meletakkan tas dan melepaskan jasnya.
“Ya,” jawab seseorang di dapur.
“Sudah kubilang, suruh koki saja!” seru High Bozz gemas sambil menghampiri dapur.
Di dapur kecil yang terlihat mewah itu, seorang anak laki-laki tampak sedang memasak sesuatu. Begitu menyadari keberadaan High Bozz, dia langsung menoleh.
“Tidak ada salahnya masak untuk suami, kan?” kata Reachy dengan senyum ceria. “Kau nggak suka?”
High Bozz memeluk Reachy dari belakang. “Aku suka masakanmu bagaimanapun bentuknya,” bisiknya di telinga Reachy. Reachy langsung memukul paha High Bozz dengan gemas. High Bozz tertawa geli melihat wajah Reachy yang memerah.
High Bozz mengatakan itu bukan karena masakan Reachy tidak enak. Sebaliknya, masakannya selalu enak. Hanya saja, istrinya ini suka bereksperimen dengan cara penyajiannya. Alhasil, masakan berbentuk aneh-aneh pun sering terhidang di meja makan. Yang terakhir, dia membuat schotel saus nanas dengan bentuk tumpukan dolar kertas. Hari itu, Reachy memang baru saja menyelesaikan transaksi dengan jumlah jutaan dolar.
“Kenapa suka banget masak untukku, Sayang?” tanya High Bozz sambil duduk di meja makan yang sudah sedikit ditata.
“Sayang suami boleh, dong,” jawab Reachy tanpa menoleh. Dia sedang sibuk dengan ovennya.
“Kapan kau menghidangkan dirimu sendiri, hm?” tanya High Bozz sambil tersenyum nakal.
Reachy berbalik dan menatap High Bozz dengan wajah merengut. Dibantingnya piring dengan spaghetti di atasnya ke meja.
“Lebih suka makan orang daripada makan masakanku?” seru Reachy gemas. “Sudah capek-capek masak, ternyata suamiku kanibal.” Reachy menghembuskan napas kesal.
High Bozz tersenyum masam melihat istrinya yang pura-pura tidak mengerti ini. Reachy masih saja bicara tentang keluhannya punya suami kanibal. High Bozz berdiri dan memeluk Reachy dari belakang. Reachy tampak terkejut dan langsung menghentikan bicaranya. High Bozz mencium leher Reachy dengan bernafsu.
“Ha-haig-b-boz,” keluh Reachy. “Makan duluuu.”
“Aku mau makan ini saja,” kata High Bozz. Tangannya sudah menggerayangi kancing-kancing baju Reachy.
Reachy menyentakkan High Bozz dengan kasar. “Makan dulu,” kata Reachy kesal. Dia mulai menyiapkan makanan lainnya di atas meja. Sedangkan, High Bozz duduk kembali di kursinya.
High Bozz tahu sekali, kalau dia sudah melakukan hal itu, Reachy akan menjauh darinya. Dia takkan seriang tadi. Benar saja, Reachy makan dalam diam. Dia tidak berminat bercanda lagi. High Bozz cuma tersenyum-senyum geli sambil menatap istrinya yang tidak bersemangat untuk “disantap” olehnya. Sudah enam bulan sejak cincin tersemat di kedua jari manis mereka, tapi Reachy masih saja sering kesal kalau High Bozz mulai begituan lagi. Herannya, kalau bukan masalah di ranjang, Reachy tampak senang mengurus High Bozz. Istri yang baik di rumah, hm?
0 komentar:
Poskan Komentar