Reinhart sedang menunggu di ruang jenguk khusus untuk kriminal kelas kakap. Ruang yang hampir sama dengan ruang di mana dia biasa menemui Reachy. Sesaat kemudian, seorang polisi dan seorang tahanan muncul dari pintu di hadapannya. Kedua pergelangan tangan tahanan itu diborgol. Tahanan itu menatap Reinhart dengan heran.
“Hai, High Bozz,” sapa Reinhart setelah tahanan itu duduk.
“Untuk apa pengacara Reachy datang menemuiku?” tanya High Bozz dengan senyuman menyebalkan terbentuk di bibirnya.
“Untuk memintamu sebagai saksi yang akan melemahkan tuntutan jaksa.”
High Bozz menaikkan alisnya geli. “Aku lebih senang kalau dia dipenjara lebih lama.“
“Oke, kalau kau ingin begitu. Karena itu, aku butuh bantuanmu. Jujur saja, dia lebih rawan divonis mati daripada penjara seumur hidup. Nah, kau mau membantu istri tercintamu?”
High Bozz menatap tajam pada Reinhart. Yang ditatap, balas menatap dengan tajam juga. Setelah beberapa saat saling menatap, High Bozz mengatakan, “Baiklah.”
“Sip,” kata Reinhart senang. “Nah, satu pertanyaan terakhir, sebelum aku pulang. Menurutmu Reachy itu bagaimana?” tanya Reinhart penasaran.
High Bozz cuma menaikkan alisnya pura-pura tidak mengerti pertanyaan itu.
“Maksudku, dia kan istrimu. Apakah dia melayanimu dengan sukarela? Apa dia bahagia sebagai istrimu? Atau dia malah membencimu karena kau selalu memaksakan kehendakmu yang selalu bersikap egois?”
“Apa maksud pertanyaanmu itu? Kau ber—”
“Aku tidak bertanya dengan kapasitasku sebagai pengacaranya,” potong Reinhart. Lalu, dia menambahkan dengan cepat. “Aku hanya bertanya sebagai seorang teman yang peduli pada temannya. Tahukah kau? Dia menangis malam itu setelah kau memperkosanya di depanku. Tapi, dia masih mau menyelimutimu dengan selimut tebal, sementara dia hanya menggunakan selimut yang tipis! Saat dia bercerita tentangmu pun, dia selalu menceritakanmu dengan nada menyenangkan. Bukan nada benci. Padahal kau sudah menghancurkan hidupnya!”
Wajah High Bozz tidak berubah sedikitpun. Tidak ada kerut senang atau pun kerut sedih. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.
“Anak itu memang tidak membenciku. Kalau dia membenciku, dia pasti membiarkanku mati, bukannya memberikan kekuatannya untuk menghidupkanku. Dia menangis di depanmu? Tidak mungkin. Air matanya hanya keluar di depan orang asing yang akan dimanfaatkannya.”
Reachy memang tidak pernah memperlihatkan air matanya di depan Reinhart. Hanya saja sesaat sebelum dia menutup pintu, terdengar bunyi “buk” yang teredam karpet. Dia menoleh dan dilihatnya punggung kecil itu tampak terguncang-guncang. Reinhart pun tahu, anak itu menangis. Tanpa suara. Mungkin karena dia menyadari Reinhart masih berada di pintu.
0 komentar:
Poskan Komentar