“Bagaimana caranya kau membebaskanku?” tanya Reachy pada kunjungan Reinhart berikutnya.
“Hm… Pura-pura gila?” tanya Reinhart dengan tampang serius yang disambut jitakan di kepalanya.
“Cuma cara itu yang bisa dikatakan oleh seorang pengacara sekaliber kau?” sindir Reachy.
“Bercanda, Bos. Ada satu cara sebenarnya yang bisa membebaskanmu dalam waktu singkat.” Reachy menaikkan alisnya ingin tahu. Dia memang tidak pernah tertarik pada hukum, tapi dia tahu tidak ada hukum yang bisa membebaskan seorang pembunuh yang sudah membunuh 50 orang, dalam waktu singkat.
“Hmm... Ini hukum yang aneh menurutku. Hukum kuno kalau menurut buku di perpustakaan kota. Waktu kuliah pun hanya disebut sekali,” kata Renace sambil membuka sebuah buku tebal yang terlihat kuno. “Yah, disebutkan di sini, hukum ini digunakan di suatu wilayah tertentu sekitar dua ribu tahun lalu. Tapi, entah kenapa beberapa abad berikutnya, hukum ini seperti lenyap ditelan bumi. Mungkin karena garis keturunan para pelaksana hukum saat itu punah. Tapi, anehnya, seorang hakim di sebuah desa kecil pada tahun 1805, menggunakan hukum ini untuk mengadili seorang kriminal. Padahal hukum ini tidak pernah tertulis di kitab manapun saat itu. Setelah itu, karena dituding aneh dalam melakukan pengadilan, hakim saat itu pun menuliskan hukum yang digunakannya untuk menghukum kriminal tersebut.”
“Hei, hei, Rein. Kau sedang membicarakan sebuah hukum yang tidak terlacak untuk membebaskanku?” tanya Reachy heran. Kalau tidak terlacak, bagaimana bisa digunakan untuk menghukumnya?
“Sabar,” kata Reinhart. Lalu, dia meneruskan membaca. “Hukum ini pernah beberapa kali digunakan lagi di tempat-tempat yang berbeda. Sebagian besar untuk menghukum kriminal yang rasanya sayang untuk dihukum mati. Memang tidak semua kriminal yang dihukum oleh hukuman ini akan menjemput kematiannya, tapi sebagian besar berujung pada kematian. Hukuman ini dilakukan dengan melakukan sebuah ritual tertentu dalam bahasa Latin yang sangat kuno.”
Reinhart membalik bukunya sehingga Reachy bisa membaca tulisan-tulisannya. Dia menunjukkan sebuah gambar yang menjelaskan bacaan yang baru saja dibacanya.
Gambar itu menunjukkan seseorang yang matanya ditutup dan tangannya terikat, dikelilingi oleh tiga orang yang menggunakan jubah dan kerudung hitam. Ketiga orang berjubah hitam itu mengangkat tangannya seakan melakukan sebuah ritual.
“Ritual apa yang mereka lakukan?” tanya Reachy heran. “Ritual yang biasanya berujung pada kematian?”
“Sebentar,” kata Reinhart. Dia membalik bukunya dan mulai membaca lagi. “Ritual yang mereka lakukan adalah ritual untuk menarik kekuatan dari seseorang. Kekuatan yang biasanya digunakan untuk menopang hidup seorang manusia akan diambil dan dihancurkan.”
“Apa hukum itu masih berlaku di zaman ini?” sela Reachy. Dia tahu sekali apa maksudnya kekuatan yang disebutkan di buku itu.
“Kurasa ya. Sekitar 30 tahun yang lalu, ada seorang kriminal y—“
“Itu 30 tahun yang lalu. Maksudku dalam jangka waktu 10 tahun terakhir. Masih adakah yang melakukan hukum itu?”
“Sabar. Yang kudengar 30 tahun yang lalu, seorang pembunuh dijatuhi hukuman ini dan dia meninggal. Delapan tahun berikutnya, seorang pembunuh juga dijatuhi hukuman ini dan dia selamat. Kudengar sekarang dia menjalani hidup yang tenang di pedesaan. Kalau kau minta bukti sepuluh tahun terakhir, tidak ada.”
“Kau ingin aku mendapat hukuman itu?” tanya Reachy datar.
“Ya. Hukum kuno ini memang jarang dipelajari dan sebenarnya memang hampir tidak ada orang yang mempelajarinya. Tapi, entah kenapa, hukuman ini selalu saja bisa muncul dan terkabul walaupun tidak ada seorang penegak hukum pun yang tahu hukum apa ini sebenarnya. Nah, mengingat resiko kematian yang begitu besar, orang-orang yang dijatuhi hukuman ini, akan langsung dibebaskan kalau dia berhasil selamat, dan tidak ada syarat tambahan.”
“Kurasa sekarang ini, hukuman itu hanya diberikan pada orang-orang yang mempunyai kekuatan. Seperti aku. Karena itu, tidak terlalu sering muncul. Orang yang punya kekuatan di dunia ini kan tidak banyak,” kata Reachy datar.
“Nah, nah, jadi kau setuju?” tanya Reinhart ceria.
“Terserah.”
Reinhart langsung merengut kesal. “Kau ini…! Dari dulu terserah, terserah! Aku ini pengacaramu, kan?! Pengacara itu seharusnya mengikuti apa yang dikatakan kliennya! Nah, sekarang kau ingin menjalani hukuman itu atau tidak?”
Reachy sudah ingin menjawab terserah lagi. Tapi, dia tahu, Reinhart, pengacaranya yang baik hati ini, akan marah lagi kalau dia menjawab itu. Akhirnya, Reachy menghembuskan napas kesal dan menjawab, “Ya.”
“Sip, sip. Akan segera kususun berkas-berkasnya,” kata Reinhart senang.
Reachy menatap datar pada Reinhart yang tampak gembira. “Bagaimana kalau aku tidak selamat dari hukuman itu? Kau menyarankan hukuman ini dengan melihat resiko itu, kan?”
“Ng… Iya, sih. Ada juga kemungkinan kau tidak selamat. Tapi, menurutku, kau pasti akan selamat. Entah kenapa aku merasa yakin sekali dengan hal itu. Yah, kau kan sudah beberapa kali membuat keajaiban. Jadi, kurasa kau akan baik-baik saja, ” jawab Reinhart yakin.
0 komentar:
Poskan Komentar