“Jadi? Kau ke sana lagi?” tanya Kanata setelah cerita Reinhart berakhir. Kanata memang memaksanya cerita tentang bagaimana dia bisa bertemu Reachy.
“Ya, sebulan kemudian. Saat itulah aku berjanji untuk menjadi pengacaranya suatu saat nanti kalau dia tertangkap polisi.”
Kanata manggut-manggut mengerti. “Hmm… Lalu, bagaimana kondisinya?” tanya Kanata penasaran.
== *^*^* ==
Reinhart memang datang lagi sesuai janjinya. Tapi, kalau dia mengharapkan senyuman yang bisa membuatnya berdebar-debar itu, dia benar-benar kecewa. Tidak ada sambutan seperti yang dulu diterimanya. Tidak ada cara unik Reachy untuk menggodanya. Kamar itu terlihat sepi ketika Reinhart memasukinya. Dia mendapati Reachy yang duduk tertidur di sisi tempat tidurnya. Kalau itu cara baru yang digunakannya untuk menggoda Reinhart, anak itu sepertinya melupakan 1 hal penting. Dia tidak mengenakan pakaian yang diinginkan Reinhart dipakainya.
“Reachy?” panggil Reinhart hati-hati. Tapi, anak itu masih tertidur. Ketika Reinhart akan menyentuhnya, dia baru terbangun. Dia menatap Reinhart kaget.
“Ah, maaf,” kata Reachy ketika menyadari dia sedang kerja.
Reachy segera berdiri dan masuk ke sebuah bilik kecil. Dia hanya sebentar di dalam sana. Begitu keluar, dia sudah mengenakan pakaian yang berbeda dengan tadi. “Sudah berubah selera rupanya?” kata Reachy sambil tersenyum. Dia mengenakan hem lengan panjang berwarna biru muda dengan celana pendek putih.
Reinhart balas tersenyum senang. “Biasa tidur di tengah pekerjaan?”
Reachy tersenyum lagi. “Tidak,” jawabnya sambil duduk di tempat tidur di sisi Reinhart.
Reinhart menatapnya. Entah kenapa dia merasa aneh melihat senyuman Reachy. Senyum itu tidak semanis dulu. Atau karena Reachy sudah tahu bahwa Reinhart tidak terlalu menginginkan seks, sehingga dia tidak memasang senyum penggodanya seperti biasa? Tapi, rasanya bukan itu. Senyumnya dulu setelah kekakuannya mencair dan mereka bisa bercanda lepas, tetap saja berbeda. Dulu senyum itu selalu terlihat menyenangkan dan rasanya menenangkan. Tapi, yang sekarang, rasanya senyum itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kau baik-baik saja?” tanya Reinhart ragu. Reachy mengangguk.
“Nggak mau jujur padaku?” tanya Reinhart lagi. Reachy menatapnya sesaat dengan tatapan yang sulit dimengerti.
“Jujur tentang apa?”
“Yah, tentang apa yang kau alami. Kau tadi tertidur, padahal biasanya tidak, kan? Pasti ada sesuatu.”
“Kau mau aku jujur?”
Reinhart mengangguk.
Reachy menghela napasnya lelah.
“Kemarin ada yang menyewaku dengan paket yang paling mahal,” kata Reachy memulai ceritanya.
Reinhart mengatakan “wow” tanpa suara. Paket paling mahal, pasti miliarder yang melakukannya. Gila, mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menikmati seorang pelacur anak-anak. Paket itu harganya mungkin seharga uang kuliahnya setahun!
Reachy menghela napas lagi. Dia tampak berat menceritakannya. “Yah, dia memperkosaku. Tiga kali.”
Kali ini Reinhart benar-benar terkejut. Tiga kali dalam tiga jam? Wow.
0 komentar:
Poskan Komentar