Tetapi, keriangan mereka berdua langsung lenyap ketika pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pria masuk. Saat itu, Reachy sedang telentang dengan Reinhart di atasnya. Pria itu tampak murka melihat posisi kedua orang itu. Reachy langsung buru-buru menyingkir dari bawah Reinhart. Sedangkan Reinhart menatap pria itu dengan heran. Ini masih gilirannya, seharusnya tidak akan ada yang masuk untuk melakukan interupsi seperti ini. Tapi, Reachy malah turun dari tempat tidur dan mendekati pria itu.
“Kenapa ke sini?” tanya Reachy heran sekaligus cemas. Tapi, pria itu tidak menggubris Reachy. Dia mendekati Reinhart yang tampaknya masih tidak suka dengan interupsi ini.
“High Bozz!!” seru Reachy kalut. Dia berlari dan berdiri di depan Reinhart. “Mau apa kau? Ini masih jam kerjaku.”
“Oh, ya?” High Bozz merenggut kerah Reachy dan membantingnya ke karpet. Yang terjadi berikutnya, benar-benar membuat Reinhart ingin menutup matanya.
Reachy langsung bangkit lagi dan langsung mencium bibir High Bozz. High Bozz langsung membalas ciuman itu sambil menatap Reinhart dengan tatapan penuh kemenangan. Berikutnya, High Bozz seakan sudah menunggu-nunggu saat itu. Dirobeknya kemeja yang dipakai Reachy dengan ganas dan mereka bergumul di atas karpet. Reinhart benar-benar tidak percaya dia akan melihat percintaan antar lelaki seperti ini.
Sejam lamanya, Reinhart hanya bisa duduk diam menatap mereka berdua. Berkali-kali Reachy merintih kesakitan ketika rantai di lehernya ditarik. Tapi, High Bozz tampaknya malah makin senang. Ketika akhirnya mereka berdua berhenti, High Bozz tampak tertidur puas. Sedangkan Reachy tampak terengah-engah. Dia duduk membelakangi Reinhart.
“Rein… Bisa ambilkan dua selimut di dekatmu?” pinta Reachy tanpa menoleh.
Reinhart memberikan sebuah selimut tebal dan sebuah selimut tipis. Hanya itu yang ada di tempat tidur Reachy. Reachy menyelubungkan selimut yang tebal ke tubuh telanjang High Bozz, sedangkan yang tipis digunakannya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Setelah itu, dia berdiri, berbalik, dan menatap Reinhart. Ketika melihat matanya, Reinhart tahu, Reachy tidak menikmati peristiwa tadi sedikitpun. Wajah itu terlihat seperti ingin menangis. Tapi, tidak ada setetes pun air mata yang mengalir ketika dia bicara.
“Maaf, membuatmu menyaksikan ini,” kata Reachy pelan. Reinhart langsung menggeleng kuat-kuat. “Pulanglah. Dia bisa bangun kapanpun. Maaf sekali lagi.” Kali ini Reachy membungkuk dalam-dalam.
“Hei, hei, tidak usah seperti itu,” kata Reinhart sedikit cemas. Dia menghampiri Reachy dan berjongkok di depannya, membuat Reachy yang masih membungkuk, menatap Reinhart. “Kau tidak apa-apa?” tanya Reinhart pelan. Reachy menegakkan tubuhnya dan menggeleng pelan.
“Pulanglah. Sekretarisku akan mengurus transportasinya,” pinta Reachy lagi.
Reinhart sebenarnya tidak ingin pulang. Reachy sama sekali tidak tampak baik-baik saja dan ini semua gara-gara dia. Reinhart sudah hampir memeluk Reachy tapi anak itu mundur selangkah saat melihat gerakan Reinhart.
“Baiklah. Aku pulang. Aku akan datang lagi. Aku janji,” kata Reinhart yakin.
Reachy memaksakan sepotong senyum di wajahnya. Begitu Reinhart melewatinya, air matanya langsung mengalir deras.
0 komentar:
Poskan Komentar