Dulu, saat Reachy berusia 12 tahun. Setelah Leonce menyerahkan diri ke penjara, High Bozz langsung bersikap semena-mena terhadap Reachy. High Bozz tampak sudah menunggu-nunggu saat itu. Dia langsung "menikahi" Reachy. Selain itu, walaupun sudah menjadikan Reachy sebagai miliknya, dia tampak masih belum puas. High Bozz mempekerjakan Reachy sebagai pelacur.
Tarif Reachy sebagai pelacur bisa dibilang mahalnya selangit. Walaupun begitu, entah kenapa, cukup banyak yang berminat untuk mencoba Reachy, termasuk Reinhart. Saat itu dia masih seorang mahasiswa fakultas hukum semester kedua, yang lebih senang bermain daripada belajar. Dia memang tidak terlalu suka hukum, ayahnya-lah yang memaksanya masuk ke fakultas itu.
Alasan dia tertarik pada Reachy, sebenarnya sederhana saja. Hampir sama dengan alasan beberapa orang yang datang pada Reachy. Bagaimana rasanya melakukan “itu” dengan seorang anak laki-laki berumur 12 tahun? Terus terang saja, promosi yang dilakukan High Bozz cukup luar biasa. Katanya, Reachy adalah pelacur yang bisa menuruti keinginan Anda. Kalau Anda ingin dicumbu, dia akan melakukannya. Kalau Anda ingin dia diam, dia juga akan menurut. Masih banyak servis lain yang bisa diberikannya. Intinya, Anda akan puas.
Selain kepatuhan itu, ada hal yang menarik lainnya. Ada beberapa paket yang disediakan High Bozz. Yang berbeda dari paket-paket itu adalah pakaian yang akan dikenakan Reachy saat menyambut pelanggannya. Ada juga beberapa paket yang harganya lebih mahal, menyediakan perbedaan ruangan dan waktu yang lebih panjang.
Karena keterbatasan kantong seorang mahasiswa, Reinhart pun hanya memilih paket yang termurah. Paket itu benar-benar membuat Reachy tampak sederhana. Dia menyambut Reinhart dengan hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang yang tampak sangat kebesaran sampai mencapai pahanya dan sebuah G-string tentunya. Selain itu, lehernya terlilit rantai kecil yang sepertinya disimpul dasi. Ada bekas kemerah-merahan pada lehernya.
“Kenapa diam di sana?” tanya Reachy heran sambil maju mendekat.
Tanpa sadar, Reinhart mundur selangkah. Melihat itu, Reachy bukannya menghentikan langkahnya tapi malah semakin maju. Reinhart mendadak merasa gugup. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya kalau Reachy memeluknya, menciumnya, me-me-me… Pikiran Reinhart sudah melancong kemana-mana ketika Reachy berhenti melangkah tepat semeter di depan Reinhart.
Anak itu cuma berdiri diam dan menatap Reinhart sesaat dengan tatapan polos. Lalu, saat berikutnya, anak itu sudah berbalik dan melangkah menuju ke tempat tidur lagi. Reinhart menatap anak itu dengan heran. Dia belum pernah bertemu pelacur yang maju lalu mundur lagi seperti ini.
“Mau sampai kapan di situ?” tanya Reachy setelah hening beberapa saat.
Reinhart tersadar dari lamunannya. Anak itu seperti membiusnya hanya dengan gerakan-gerakan dan tatapannya.
“Ah, ya.” Reinhart maju dengan pikiran bahwa dia sudah membayar mahal untuk ini. Tidak boleh ada waktu yang tersia-sia. Tapi, lagi-lagi dia berhenti.
“Kau benar-benar 12 tahun?” Reinhart langsung merasa konyol dengan pertanyaannya itu. Tapi, anak itu memang tampak seperti anak SD. Reachy menatapnya geli lalu mengiyakan.
“Rantai itu?”
“Tarik saja kalau kau ingin,” jawab Reachy sambil tersenyum.
Reinhart merasa jantungnya berhenti berdetak melihat senyuman itu. Ya Tuhan, apakah aku mulai tidak normal? Kenapa anak laki-laki ini terlihat begitu mempesona?
Akhirnya, Reinhart tidak melakukan apa-apa pada Reachy. Reachy malah membuat Reinhart bercerita tentang dirinya sendiri. Reachy berkali-kali duduk di pangkuannya tapi Reinhart hanya memeluk anak itu. Dia cuma sekali menarik rantai di leher Reachy ketika anak itu sudah tiga kali mengelak untuk menceritakan tentang dirinya.
Reachy bisa dibilang jujur dalam menceritakan tentang dirinya sendiri. Dia menceritakan bahwa dia sebenarnya adalah seorang pembunuh di AO. Dia juga cerita sedikit tentang kehidupan SMP-nya. Setelah 2 jam bersama-sama seperti itu, kekakuan Reinhart di awal lenyap tak berbekas. Dia berkali-kali melontarkan candaan yang membuat Reachy tertawa renyah.
0 komentar:
Poskan Komentar