“Halo,” kata suara di seberang sana.
“Ah, bisa bicara dengan Tuan Ravieira?” tanya Reachy sedikit gugup.
“Saya sendiri. Siapa ini?”
“Ng… Ini Reachy… Kalau kau—“
“Hoi, Reachy!!” seru pengacara itu ceria. Reachy sampai menjauhkan gagang telpon dari telinganya. Semua orang yang berada di ruangan itu ikut kaget. “Akhirnya kau menelponku juga! Aku segera ke sana! Tunggu, ya!” Lalu, sambungan pun terputus.
Reachy menghembuskan napas lega sambil meletakkan gagang telpon itu. Belum sempat mereka semua bereaksi atas seruan tadi, telpon itu berbunyi. Reachy langsung mengangkatnya.
“Halo?” tanya Reachy.
“Eh, kau di markas polisi yang mana?” tanya suara di seberang sana.
Reachy mendengus lalu dia menyebutkan markas polisi tempat dia berada.
“Sip, sip. Sabar, ya!” Lalu, sambungan pun terputus lagi.
“Heboh, ya?” tanya salah seorang anak buah Kanata.
“Aku… juga kaget,” kata Reachy sambil meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya di meja.
Beberapa menit kemudian, Reinhart Ravieira sudah tiba. Rambutnya pirang dengan mata biru. Rahangnya yang sedikit persegi tampak kokoh. Badannya yang tinggi pun tegap dan terlihat cukup berisi, otot tentunya, bukan lemak. Secara keseluruhan, dia terlihat sekali merupakan tipikal orang Eropa.
Begitu tiba, laki-laki itu langsung memeluk Reachy dengan riangnya. Membuat orang-orang yang berada di ruangan itu membelalak terkejut. Mereka bukannya tidak pernah melihat Reinhart Ravieira. Sebagai penegak hukum, mereka berkali-kali bertemu pengacara kondang itu. Tapi, mereka tidak pernah melihatnya seheboh ini!! Laki-laki itu selalu terlihat cool setiap menghadapi orang lain.
Reachy terbatuk pelan. “Rein… Sesak…”
“Oh, sorry. Aku kangen sekali padamu,” kata Reinhart masih dengan senyum cerianya. Bukan senyum paten yang biasa ditunjukkannya.
“Maaf, tidak langsung menghubungimu. Aku—”
“Tidak masalah. Nah, inspektur,” kata Reinhart pada Kanata, “Kami bisa minta ruang pribadi, kan? Aku perlu bicara dengan klienku.”
Mereka berdua membicarakan tentang prosedur pergantian pengacara Reachy sebelum Kanata memberikan sebuah ruangan untuk mereka berdua. Reachy menatap pengacara barunya dengan tatapan speechless. Sama sekali tidak menyangka akan mendapat pengacara seheboh ini.
Dalam ruangan pribadi itu, Reinhart seakan menunjukkan kelasnya sebagai pengacara top atau… dia sedang menunjukkan keingintahuan seorang teman lama. Dia langsung menanyai Reachy tentang apa saja yang sudah terjadi sejak terakhir mereka bertemu. Walaupun begitu, Reinhart tidak terjebak terlalu lama dalam nostalgia. Dia tetap melakukan tugasnya dengan baik. Dan dia berjanji akan membebaskan Reachy. Satu hal yang langsung disambut Reachy dengan kepasrahan.
0 komentar:
Poskan Komentar