Kurang dari 5 detik Reachy berdiri di samping tempat tidur itu, lututnya tiba-tiba menatap lantai dan kepalanya terkulai di samping tubuh laki-laki yang terbaring itu.
Sementara itu salah satu penjaga mendapat panggilan dari walkie-talkie-nya. Panggilan itu dari Kanata yang menanyakan apakah Reachy ada di situ atau tidak. Setelah mendapat jawaban ya, Kanata segera menyusul Li yang sudah menebak ke mana Reachy akan pergi.
Sampai di kamar yang dituju, Li langsung pucat melihat darah yang mengalir dari perut Reachy. Tangan Reachy tampak menggenggam erat lengan High Bozz, yang terbaring kaku dengan jarum-jarum infus yang menusuk nadinya. Li langsung melepaskan genggaman Reachy pada tangan High Bozz yang terbaring kaku. Digendongnya tubuh Reachy dan dibaringkannya di sofa lusuh yang ada di ruangan itu.
Napas Reachy sudah satu-satu ketika tubuhnya terbaring. Kanata yang tiba beberapa saat kemudian, langsung memerintahkan anak buahnya memanggil dokter atau perawat. Reachy sudah tak sadarkan diri ketika dokter dengan beberapa perawatnya tiba dengan sebuah brankar. Reachy langsung dinaikkan ke atas brankar dan dibawa ke ruang gawat darurat. Li dan Kanata tetap tinggal di sana. Li sudah mau ikut ke ruang gawat darurat tapi Kanata mencegahnya. Dia sepertinya ingin mengorek jawaban pertanyaan-pertanyaannya dari Li.
"Darimana kau tahu kalau dia akan kemari?" selidik Kanata.
"Nebak," jawab Li santai. Kanata menatap Li tidak percaya.
"Ngapain dia ke sini?" tanya Kanata sambil menatap High Bozz, lalu pandangannya beralih ke EKG yang masih menunjukkan garis lurus.
"Entahlah," jawab Li. "Aku mau ke UGD dulu," kata Li sambil melenggang keluar meninggalkan Kanata yang masih penasaran.
Dokter-dokter dan perawat-perawat benar-benar butuh waktu untuk setidaknya menghentikan pendarahan Reachy. Kemampuan regenerasi Reachy seakan-akan mati sama sekali. Setelah 5 jam berkutat di UGD pun, kondisi Reachy masih sangat labil. Sekarang seorang perawat hampir selalu ada di samping Reachy karena kondisinya bisa memburuk sewaktu-waktu.
Yang tampaknya paling menyesal dari kondisi Reachy sekarang ini adalah kakaknya. Dialah yang mencengkeram luka Reachy sampai luka itu mengalami pendarahan lagi.
Tiga hari kemudian adalah puncaknya. EKG yang terhubung dengan Reachy, menunjukkan garis lurus. Dokter sudah berusaha melakukan kejut jantung tapi tidak ada hasilnya. Dan Li benar-benar menyesal kali ini. Dia tampak paling down ketika melihat EKG menunjukkan garis lurus. Walaupun begitu, entah kenapa, dia percaya Reachy takkan meninggal semudah itu.
Sementara itu salah satu penjaga mendapat panggilan dari walkie-talkie-nya. Panggilan itu dari Kanata yang menanyakan apakah Reachy ada di situ atau tidak. Setelah mendapat jawaban ya, Kanata segera menyusul Li yang sudah menebak ke mana Reachy akan pergi.
Sampai di kamar yang dituju, Li langsung pucat melihat darah yang mengalir dari perut Reachy. Tangan Reachy tampak menggenggam erat lengan High Bozz, yang terbaring kaku dengan jarum-jarum infus yang menusuk nadinya. Li langsung melepaskan genggaman Reachy pada tangan High Bozz yang terbaring kaku. Digendongnya tubuh Reachy dan dibaringkannya di sofa lusuh yang ada di ruangan itu.
Napas Reachy sudah satu-satu ketika tubuhnya terbaring. Kanata yang tiba beberapa saat kemudian, langsung memerintahkan anak buahnya memanggil dokter atau perawat. Reachy sudah tak sadarkan diri ketika dokter dengan beberapa perawatnya tiba dengan sebuah brankar. Reachy langsung dinaikkan ke atas brankar dan dibawa ke ruang gawat darurat. Li dan Kanata tetap tinggal di sana. Li sudah mau ikut ke ruang gawat darurat tapi Kanata mencegahnya. Dia sepertinya ingin mengorek jawaban pertanyaan-pertanyaannya dari Li.
"Darimana kau tahu kalau dia akan kemari?" selidik Kanata.
"Nebak," jawab Li santai. Kanata menatap Li tidak percaya.
"Ngapain dia ke sini?" tanya Kanata sambil menatap High Bozz, lalu pandangannya beralih ke EKG yang masih menunjukkan garis lurus.
"Entahlah," jawab Li. "Aku mau ke UGD dulu," kata Li sambil melenggang keluar meninggalkan Kanata yang masih penasaran.
Dokter-dokter dan perawat-perawat benar-benar butuh waktu untuk setidaknya menghentikan pendarahan Reachy. Kemampuan regenerasi Reachy seakan-akan mati sama sekali. Setelah 5 jam berkutat di UGD pun, kondisi Reachy masih sangat labil. Sekarang seorang perawat hampir selalu ada di samping Reachy karena kondisinya bisa memburuk sewaktu-waktu.
Yang tampaknya paling menyesal dari kondisi Reachy sekarang ini adalah kakaknya. Dialah yang mencengkeram luka Reachy sampai luka itu mengalami pendarahan lagi.
Tiga hari kemudian adalah puncaknya. EKG yang terhubung dengan Reachy, menunjukkan garis lurus. Dokter sudah berusaha melakukan kejut jantung tapi tidak ada hasilnya. Dan Li benar-benar menyesal kali ini. Dia tampak paling down ketika melihat EKG menunjukkan garis lurus. Walaupun begitu, entah kenapa, dia percaya Reachy takkan meninggal semudah itu.
0 komentar:
Poskan Komentar