Reachy tidak menjawab. Dia menatap Leonce tajam, merasa teramat sangat kesal. Leonce mendekatinya lagi ketika Reachy masih tidak mau bicara apa-apa. Reachy tanpa sadar melangkah mundur.
"Takut?" tanya Leonce sambil tersenyum mengejek. "Kalau pemimpinnya begini, mana bisa menghancurkan AO?" Reachy memalingkan wajahnya kesal.
Sesaat kemudian, Leonce sudah berhasil memeluknya lagi. "Masih nggak mau bilang?" tanya Leonce. Tangan kirinya menggenggam jari-jemari tangan kiri Reachy dan diremasnya dengan lembut. Reachy meringis sedikit. Leonce tersenyum senang. Tangan Leonce terus naik merayap di tangan lengan kiri Reachy. Reachy dengan lemahnya berusaha menyingkirkan tangan Leonce yang terus naik. Tangan itu sudah sampai di bahu Reachy dan tiba-tiba tangan itu meremas bahu Reachy, tidak terlalu kuat, tapi Reachy menjerit kesakitan.
Li dan yang lainnya, yang dari tadi menonton adegan aneh itu, terkejut setengah mati mendengar jeritan kesakitan Reachy. Efek yang sangat luar biasa hanya untuk sebuah remasan lemah -untuk ukuran Reachy- di bahu. Bahkan setelah jeritannya itu, wajah Reachy masih tampak kesakitan. Rasa sakit apa yang menyebabkannya sampai seperti itu??
"Masih sesakit itu, kau sudah berani keluar?" tanya Leonce sinis. Dilepaskannya pelukannya. Reachy menggenggam lengan kirinya pelan. Rasa sakit itu seakan menjalar di seluruh lengan kirinya.
Nafas Reachy masih terengah-engah ketika Leonce memeluknya dari belakang sekali lagi. Kali ini Reachy tampak pasrah. Disandarkannya kepalanya di bahu kanan Leonce dengan lelah. "Masih ada lagi, kan?" Reachy memejamkan matanya merasa kesal.
"Hentikan," kata Reachy pelan. Wajahnya kembali mengerut kesakitan.
Tangan Leonce kembali beraksi. Kali ini di pinggang Reachy. Dari tadi, saat dia memeluk Reachy, dia selalu berusaha menghindari tempat itu. Tapi, kali ini, pinggang kiri Reachy sudah hampir diremasnya, tapi diurungkannya niatnya itu ketika melihat wajah Reachy yang teramat sangat pasrah pada perlakuan Leonce selanjutnya.
"Oke, oke. Aku tidak mau membuatmu menangis kesakitan," kata Leonce. Dibantunya Reachy duduk di kursi yang punya sandaran. "Ceritakan pada mereka," perintah Leonce.
Reachy menatap Leonce pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Leonce. Jengkel melihat sikap Reachy, tangan Leonce sudah berada di pinggang kiri Reachy, mengancam akan meremasnya kuat-kuat kali ini. "Oke, oke, aku cerita," kata Reachy pasrah. "Tolong, tanganmu." Leonce menarik tangannya kembali.
Li dkk sudah sangat siap mendapatkan jawaban dari adegan aneh yang baru saja mereka tonton. Reachy menarik napasnya dan menghembuskannya kembali dengan kesal. Dia bercerita dengan pandangan mata yang berkeliaran ke mana-mana, seakan tidak mau menatap para pendengarnya sekalipun.
"Takut?" tanya Leonce sambil tersenyum mengejek. "Kalau pemimpinnya begini, mana bisa menghancurkan AO?" Reachy memalingkan wajahnya kesal.
Sesaat kemudian, Leonce sudah berhasil memeluknya lagi. "Masih nggak mau bilang?" tanya Leonce. Tangan kirinya menggenggam jari-jemari tangan kiri Reachy dan diremasnya dengan lembut. Reachy meringis sedikit. Leonce tersenyum senang. Tangan Leonce terus naik merayap di tangan lengan kiri Reachy. Reachy dengan lemahnya berusaha menyingkirkan tangan Leonce yang terus naik. Tangan itu sudah sampai di bahu Reachy dan tiba-tiba tangan itu meremas bahu Reachy, tidak terlalu kuat, tapi Reachy menjerit kesakitan.
Li dan yang lainnya, yang dari tadi menonton adegan aneh itu, terkejut setengah mati mendengar jeritan kesakitan Reachy. Efek yang sangat luar biasa hanya untuk sebuah remasan lemah -untuk ukuran Reachy- di bahu. Bahkan setelah jeritannya itu, wajah Reachy masih tampak kesakitan. Rasa sakit apa yang menyebabkannya sampai seperti itu??
"Masih sesakit itu, kau sudah berani keluar?" tanya Leonce sinis. Dilepaskannya pelukannya. Reachy menggenggam lengan kirinya pelan. Rasa sakit itu seakan menjalar di seluruh lengan kirinya.
Nafas Reachy masih terengah-engah ketika Leonce memeluknya dari belakang sekali lagi. Kali ini Reachy tampak pasrah. Disandarkannya kepalanya di bahu kanan Leonce dengan lelah. "Masih ada lagi, kan?" Reachy memejamkan matanya merasa kesal.
"Hentikan," kata Reachy pelan. Wajahnya kembali mengerut kesakitan.
Tangan Leonce kembali beraksi. Kali ini di pinggang Reachy. Dari tadi, saat dia memeluk Reachy, dia selalu berusaha menghindari tempat itu. Tapi, kali ini, pinggang kiri Reachy sudah hampir diremasnya, tapi diurungkannya niatnya itu ketika melihat wajah Reachy yang teramat sangat pasrah pada perlakuan Leonce selanjutnya.
"Oke, oke. Aku tidak mau membuatmu menangis kesakitan," kata Leonce. Dibantunya Reachy duduk di kursi yang punya sandaran. "Ceritakan pada mereka," perintah Leonce.
Reachy menatap Leonce pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Leonce. Jengkel melihat sikap Reachy, tangan Leonce sudah berada di pinggang kiri Reachy, mengancam akan meremasnya kuat-kuat kali ini. "Oke, oke, aku cerita," kata Reachy pasrah. "Tolong, tanganmu." Leonce menarik tangannya kembali.
Li dkk sudah sangat siap mendapatkan jawaban dari adegan aneh yang baru saja mereka tonton. Reachy menarik napasnya dan menghembuskannya kembali dengan kesal. Dia bercerita dengan pandangan mata yang berkeliaran ke mana-mana, seakan tidak mau menatap para pendengarnya sekalipun.
1 komentar:
12 Maret 2008 02:13
Aduh2... Untuk orang seperti anda saya benar-benar mearasa salut, Mampu menunjukan expresi yang begitu kuat dalam tema yang ada, coba anda publikasikan kemedia, saya yakin pasti blog anda akan lebih berkembang denagan adanya banyak komentar yang masuk. Terus terang saya tidak menguasai benar apa yang disebut degan naratif, yang bersifat fiktif. Tetatpi saya rasa cerita anda benar2 menarik. sekian komentar saya.. wasalam...
Poskan Komentar