"Kak Leonce," bisik Reachy tidak percaya. Seharusnya Leonce masih ada di penjara sekarang.
Li dan yang lainnya segera menoleh mengikuti arah tatapan Reachy. Li, Renace, dan Pinxe yang terkejut segera berdiri dan menghampiri Leonce. Mereka mengucapkan beberapa salam dan memberinya pelukan selamat datang. Vena dan Vez yang juga mengenal Leonce, menghampirinya pula. Evania dan Rexie ikut meramaikan kerumunan kecil itu. Mereka menanyakan macam-macam dan tampaknya akan berlalu dalam obrolan panjang. Tapi, Leonce sendiri yang menghentikan acara temu kangen itu ketika dia melihat Reachy yang tidak bergerak dari tempat duduknya. Reachy malah terlihat asik bercakap-cakap dengan orang-orang yang tersisa. Leonce yang melihat Reachy seperti itu, segera memanggilnya.
"Reachy," panggil Leonce. Reachy menoleh. "Masih rapat?" Reachy cuma menjawab singkat "Ya." Leonce bertanya lagi, "Kenapa buru-buru?"
"Rencana ini sudah terlalu lama ditunda. Mereka sudah tidak sabar ingin melakukannya."
"Walaupun kau tidak mampu untuk memimpin misi ini?"
Reachy menatap Leonce tidak mengerti. Tapi, sesaat kemudian, Reachy sudah sibuk ngobrol lagi dengan yang lainnya. Leonce menghampirinya. Reachy masih sibuk ngobrol bahkan sampai Leonce berdiri di belakangnya. Reachy baru berhenti ketika Leonce menyentuh dagunya dan memaksanya menatap Leonce.
"Nggak kangen aku?" tanya Leonce.
"Kangen kok," jawab Reachy. Tapi, dia mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, tidak mau menatap Leonce.
"Lihat sini," perintah Leonce. Dan Reachy pun dengan terpaksa menatap Leonce. "Kenapa nggak memberiku pelukan kangen?"
"Nggak harus, kan?" jawab Reachy.
"Aku saja yang memelukmu, ya?" kata Leonce sambil tersenyum senang. Dipeluknya Reachy dari belakang tapi ada satu tindakan ekstra yang dilakukannya. Dia menahan tangan kanan Reachy di punggung anak itu. Reachy langsung menatap Leonce dengan heran.
"Menatapku dengan sukarela juga akhirnya. Kenapa tidak berani menatapku? Kau takut kebohonganmu akan terbaca olehku?" bisik Leonce di telinga Reachy. Reachy cuma menggeleng. Sepertinya dia merasa gerah dipeluk Leonce.
Leonce meneruskan aksinya. Diciumnya leher Reachy dengan mesra. Reachy jelas terkejut dengan sikap Leonce, termasuk semua penonton yang melihat hal itu. Rasa jijik muncul pada Vena, Vez, Rexie, dan Evania. Mereka berempat jelas tidak pernah melihat adegan mesra sesama jenis seperti itu.
"Kak," keluh Reachy sambil menjauhkan lehernya. Tapi, Leonce hanya berhenti untuk menjawab "Apa?"
Dari ekspresi wajahnya, Reachy jelas tidak suka pada kelakuan Leonce. Tapi, toh dia tidak berusaha sedikitpun dengan tangannya yang bebas, untuk menjauhkan Leonce darinya.
"Hentikan," keluh Reachy.
"Nggak suka? Kau kan masih punya satu tangan yang bebas. Kenapa nggak dipake? Kenapa tangan kirimu?" tanya Leonce sambil menatap Reachy lekat-lekat.
Pandangan para penonton langsung tertuju pada tangan kiri Reachy, yang baru mereka sadari, bahwa dari tadi tangan itu terkulai lemas tak bergerak.
Reachy cuma menatap Leonce dengan tatapan datar. "Nggak kenapa-kenapa. Lepasin."
Leonce pun melepaskan tangan kanan Reachy dan Reachy segera menjauhkan Leonce darinya. Leonce tersenyum puas. "Masih nggak mau bilang, tanganmu kenapa?"
Li dan yang lainnya segera menoleh mengikuti arah tatapan Reachy. Li, Renace, dan Pinxe yang terkejut segera berdiri dan menghampiri Leonce. Mereka mengucapkan beberapa salam dan memberinya pelukan selamat datang. Vena dan Vez yang juga mengenal Leonce, menghampirinya pula. Evania dan Rexie ikut meramaikan kerumunan kecil itu. Mereka menanyakan macam-macam dan tampaknya akan berlalu dalam obrolan panjang. Tapi, Leonce sendiri yang menghentikan acara temu kangen itu ketika dia melihat Reachy yang tidak bergerak dari tempat duduknya. Reachy malah terlihat asik bercakap-cakap dengan orang-orang yang tersisa. Leonce yang melihat Reachy seperti itu, segera memanggilnya.
"Reachy," panggil Leonce. Reachy menoleh. "Masih rapat?" Reachy cuma menjawab singkat "Ya." Leonce bertanya lagi, "Kenapa buru-buru?"
"Rencana ini sudah terlalu lama ditunda. Mereka sudah tidak sabar ingin melakukannya."
"Walaupun kau tidak mampu untuk memimpin misi ini?"
Reachy menatap Leonce tidak mengerti. Tapi, sesaat kemudian, Reachy sudah sibuk ngobrol lagi dengan yang lainnya. Leonce menghampirinya. Reachy masih sibuk ngobrol bahkan sampai Leonce berdiri di belakangnya. Reachy baru berhenti ketika Leonce menyentuh dagunya dan memaksanya menatap Leonce.
"Nggak kangen aku?" tanya Leonce.
"Kangen kok," jawab Reachy. Tapi, dia mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, tidak mau menatap Leonce.
"Lihat sini," perintah Leonce. Dan Reachy pun dengan terpaksa menatap Leonce. "Kenapa nggak memberiku pelukan kangen?"
"Nggak harus, kan?" jawab Reachy.
"Aku saja yang memelukmu, ya?" kata Leonce sambil tersenyum senang. Dipeluknya Reachy dari belakang tapi ada satu tindakan ekstra yang dilakukannya. Dia menahan tangan kanan Reachy di punggung anak itu. Reachy langsung menatap Leonce dengan heran.
"Menatapku dengan sukarela juga akhirnya. Kenapa tidak berani menatapku? Kau takut kebohonganmu akan terbaca olehku?" bisik Leonce di telinga Reachy. Reachy cuma menggeleng. Sepertinya dia merasa gerah dipeluk Leonce.
Leonce meneruskan aksinya. Diciumnya leher Reachy dengan mesra. Reachy jelas terkejut dengan sikap Leonce, termasuk semua penonton yang melihat hal itu. Rasa jijik muncul pada Vena, Vez, Rexie, dan Evania. Mereka berempat jelas tidak pernah melihat adegan mesra sesama jenis seperti itu.
"Kak," keluh Reachy sambil menjauhkan lehernya. Tapi, Leonce hanya berhenti untuk menjawab "Apa?"
Dari ekspresi wajahnya, Reachy jelas tidak suka pada kelakuan Leonce. Tapi, toh dia tidak berusaha sedikitpun dengan tangannya yang bebas, untuk menjauhkan Leonce darinya.
"Hentikan," keluh Reachy.
"Nggak suka? Kau kan masih punya satu tangan yang bebas. Kenapa nggak dipake? Kenapa tangan kirimu?" tanya Leonce sambil menatap Reachy lekat-lekat.
Pandangan para penonton langsung tertuju pada tangan kiri Reachy, yang baru mereka sadari, bahwa dari tadi tangan itu terkulai lemas tak bergerak.
Reachy cuma menatap Leonce dengan tatapan datar. "Nggak kenapa-kenapa. Lepasin."
Leonce pun melepaskan tangan kanan Reachy dan Reachy segera menjauhkan Leonce darinya. Leonce tersenyum puas. "Masih nggak mau bilang, tanganmu kenapa?"
0 komentar:
Poskan Komentar