Melihat kedatangan Li dkk, High Bozz dan Reachy menyapa mereka dengan "Hai!" singkat.
"Gimana keadaannya, High Bozz?" tanya Li cemas. "Nggak sakit, Re, dipijat-pijat gitu?"
"Dibius kok," jawab Reachy. Biarpun dibius, wajahnya sesekali masih meringis kesakitan.
"Nggak gimana-gimana," kata High Bozz tenang. Ditatapnya Li lekat-lekat. Dia bersiul pelan. "Kakak adik sama-sama cantik. Coba kau panjangkan rambutmu seperti kakakmu, Honey," katanya pada Reachy.
Reachy memonyongkan bibirnya kesal. Rambutnya dulu sudah pernah mencapai pinggang tapi Leonce memangkas rambutnya dengan sukses. Satu hal yang membuat High Bozz marah-marah nggak karuan.
"Ada pendarahan dalam," kata High Bozz, "Otot-ototnya ada yang putus, tulangnya juga ada yang bergeser, saraf-sarafnya juga terganggu, dan ada luka-luka yang tidak perlu, telah ditambahkan oleh adikmu yang bodoh ini." Diacak-acaknya rambut Reachy dengan kesal.
"Bisa sembuh, kan?" tanya Li makin cemas.
"Harus amputasi sebenarnya. Luka-lukanya itu sudah hampir menyebar ke seluruh bagian tangan kirinya. Apalagi yang di pinggang, sudah amat sangat parah. Tapi, karena ini terjadi pada Reachy, pasti sembuh kok. Cuma butuh waktu. Tenang saja."
Wajah Li dan lainnya sudah memutih semua setelah mengetahui separah apa luka yang diderita Reachy.
"Pulang dulu, Honey," kata High Bozz sambil mengecup kening Reachy. "Janji nggak jalan-jalan keluar lagi, ya. Kalau kau lakukan, memperkosamu sepertinya akan menyenangkan," kata High Bozz sambil tersenyum kejam. Dia pergi keluar lewat jendela.
Ancaman High Bozz sepertinya benar-benar efektif. Setelah hari itu, Reachy bahkan sama sekali tidak mau turun dari ranjangnya. Padahal dia itu orang yang paling tidak betah disuruh tiduran saja. Waktu ditanya kenapa segitu nggak maunya diperkosa High Bozz, padahal kan sudah sering. Kata Reachy, cara High Bozz memperkosa untuk nafsu dan untuk menghukum beda. Lebih kejam kalau menghukum. Nggak tanggung-tanggung. Siksa ya siksa sampai habis.
High Bozz pun datang setiap hari walaupun waktunya tidak menentu. Kadang sore, kadang tengah malam.
Seminggu kemudian, apa yang dikatakan High Bozz hampir menjadi kenyataan. Kedua luka Reachy sudah jauh tampak lebih baik. Reachy sudah mampu menggerakkan jari-jari tangan kirinya. Seminggu minggu kemudian, baru High Bozz mengizinkan Reachy jalan-jalan, setelah Reachy sudah bisa menggerakkan keseluruhan tangan kirinya sedikit. Pinggangnya sudah hampir sepenuhnya sembuh. Seminggu berikutnya, Reachy sudah benar-benar sembuh.
"Gimana keadaannya, High Bozz?" tanya Li cemas. "Nggak sakit, Re, dipijat-pijat gitu?"
"Dibius kok," jawab Reachy. Biarpun dibius, wajahnya sesekali masih meringis kesakitan.
"Nggak gimana-gimana," kata High Bozz tenang. Ditatapnya Li lekat-lekat. Dia bersiul pelan. "Kakak adik sama-sama cantik. Coba kau panjangkan rambutmu seperti kakakmu, Honey," katanya pada Reachy.
Reachy memonyongkan bibirnya kesal. Rambutnya dulu sudah pernah mencapai pinggang tapi Leonce memangkas rambutnya dengan sukses. Satu hal yang membuat High Bozz marah-marah nggak karuan.
"Ada pendarahan dalam," kata High Bozz, "Otot-ototnya ada yang putus, tulangnya juga ada yang bergeser, saraf-sarafnya juga terganggu, dan ada luka-luka yang tidak perlu, telah ditambahkan oleh adikmu yang bodoh ini." Diacak-acaknya rambut Reachy dengan kesal.
"Bisa sembuh, kan?" tanya Li makin cemas.
"Harus amputasi sebenarnya. Luka-lukanya itu sudah hampir menyebar ke seluruh bagian tangan kirinya. Apalagi yang di pinggang, sudah amat sangat parah. Tapi, karena ini terjadi pada Reachy, pasti sembuh kok. Cuma butuh waktu. Tenang saja."
Wajah Li dan lainnya sudah memutih semua setelah mengetahui separah apa luka yang diderita Reachy.
"Pulang dulu, Honey," kata High Bozz sambil mengecup kening Reachy. "Janji nggak jalan-jalan keluar lagi, ya. Kalau kau lakukan, memperkosamu sepertinya akan menyenangkan," kata High Bozz sambil tersenyum kejam. Dia pergi keluar lewat jendela.
Ancaman High Bozz sepertinya benar-benar efektif. Setelah hari itu, Reachy bahkan sama sekali tidak mau turun dari ranjangnya. Padahal dia itu orang yang paling tidak betah disuruh tiduran saja. Waktu ditanya kenapa segitu nggak maunya diperkosa High Bozz, padahal kan sudah sering. Kata Reachy, cara High Bozz memperkosa untuk nafsu dan untuk menghukum beda. Lebih kejam kalau menghukum. Nggak tanggung-tanggung. Siksa ya siksa sampai habis.
High Bozz pun datang setiap hari walaupun waktunya tidak menentu. Kadang sore, kadang tengah malam.
Seminggu kemudian, apa yang dikatakan High Bozz hampir menjadi kenyataan. Kedua luka Reachy sudah jauh tampak lebih baik. Reachy sudah mampu menggerakkan jari-jari tangan kirinya. Seminggu minggu kemudian, baru High Bozz mengizinkan Reachy jalan-jalan, setelah Reachy sudah bisa menggerakkan keseluruhan tangan kirinya sedikit. Pinggangnya sudah hampir sepenuhnya sembuh. Seminggu berikutnya, Reachy sudah benar-benar sembuh.
0 komentar:
Poskan Komentar